Minggu, 16 Desember 2012

Cerita ku


well, minggu besok adalah minggu yang paling melelahkan buat admin T.T banyak banget ujian yang harus admin hadapin dan itu susaaaaaaaaaah bangt. satu hari ada 2 ujian, dan yang paling bikin meres otak ujian teknik penelitian. admin harep admin bisa ngerjain dengan mudah sabtu nanti amin dan juga dpt nilai yang bagus sekaligus juga dengan ujian yang lainnya :D amiiiin admin minta doanyaa yaa chinggu :D hohoho

oh yaa,, admin masih ngejalanin les bahasa jepang admin :D ternyata belajar bahasa jepang itu seru juga sama aja kaya bahasa korea :D admin pengeen banget bisa mempelajari dan menguaasai kedua duanya hihihi :D maruk yaaa ?
tapi pengen aja keren soalnya :D terus juga admin pengen suatu saat bisa kesana aminn :D doain admin yaa :D
hohoho. yaudah deh cerita nya itu aja dulu, admin udah ngepost banyak laporan semoga bisa berguna bagi mahasiswa pertanian di seluruh INDONESIA :D hehehe. soalnya kalau yang namanya laporan itu beribet banget, admin disini pengen bantu aja, karena admin ngerasa sulit banget buat ngerjain laporan tanpa adanya panduan. mimin harep kalian mendukung keinginan admin untuk membantu kalian semua hihihi, karena itu kritik dan saran dari kalian semua admin butuhkan, jangan lupa kasih komentar dan join ke site inii yaaaa.. biar blog ini bisa lebih hidup dengan adanya partisipasi dari kalian smeua. THANK YOU!! GOMAWOYOO!! aand ARIGATOU GOZAIMASU hihihi. artinya makasih deeh :D dadah :D

ahaa yaaa satu lagi jangan lupa doain admiiin semoga ujiannya bisa semua :D amiiin. admin pamit belajar dulu ddadah :D

Fisiologi Tumbuhan

I.    MENGHITUNG POTENSIAL AIR JARINGAN DENGAN CARA CHARDAKOV


A.    Tujuan Percobaan
Percobaan ini bertujuan untuk mengukur potensial air jaringan umbi kentang.

B.    Cara dan Prinsip
Cara :
1.    Dengan spidol tandailah 5 tabung reaksi sebagai berikut : 0,15; 0,20; 0,25; 0,30; dan 0,35 M. Lakukan hal yang sama dengan 5 tabung reaksi lainnya. Masukkan 15 ml larutan sukrosa ke dalam tabung reaksi dengan konsentrasinya masing-masing.
2.    Dengan pengebor gabus (berdiameter 4-5 mm) dan pisau silet, buatlah 10 potongan umbi kentang berbentuk silinder yang panjangnya seragam (3-4 cm). begitu potongan selesai dibuat, segera masukkan potongan-potongan itu ke dalam cawan petri yang tertutup rapat untuk mencegah/mengurangi penguapan dari permukaan jaringan tersebut.
3.    Masukkan 2 potongan umbi kentang ke dalam setiap tabung reaksi pada lima tabung reaksi pertama. Pada lima tabung reaksi lain yang tidak direndami umbi kentang, teteskan larutan metilen biru ke dalam larutan sukrosa tersebut sampai kesemuanya berwarna biru merata.
4.    Dengan demikian kita mempunyai 5 pasang larutan sukrosa yang konsentrasinya berbeda-beda. Sepasang larutan sukrosa itu adalah yang terwarnai metilen biru dan yang terendami potongan kentang. Simpanlah 5 pasang larutan itu pada suhu yang sama.
5.    Setelah 40 menit atau lebih, dengan hati-hati keluarkan potongan umbi kentang. Jika tersedia thermometer, ukurlah suhu larutan bekas perendaman umbi.
6.    Dengan pipet pastur, secara hati-hati dan perlahan-lahan masukkan setetes larutan sukrosa terwarnai ke dalam larutan sukrosa pasangannya (yang sudah direndami jaringan umbi kentang). Usahakan agar ujung pipet berada di tengah ketinggian larutan. Perhatikan apakah tetesan itu mengapung atau tenggelam, dan perhatikan apakah proses mengapungnya/tenggelamnya secara cepat atau lambat. Ulangi cara ini terhadap larutan lainnya dengan pipet pastur yang bersih.
7.    Perkirakanlah, kalau perlu dengan interpolasi, kemolaran larutan terendami di mana setetes larutan terwarnai melayang. Konsentrasi larutan ini tidak berubah setelah direndami jaringan umbi kentang sebab tidak mendapatkan air dari jaringan atau melepaskan air ke jaringan, dan pastilah potensial airnya sama dengan potensial air jaringan yang direndam di dalamnya.

Prinsip percobaan ini didasarkan pada perubahan konsentrasi larutan (sukrosa) akibat suatu jaringan yang direndam di dalamnya dapat menyerap atau mengeluarkan air secara osmotic. Jika konsentrasi larutan tidak berubah, maka larutan ini mempunyai potensial air yang nilainya sama dengan nilai potensial air jaringan yang direndam di dalmnya.

C.    Data Percobaan
No.    Konsentrasi (M)    Pergerakan larutan metilen biru
1    0,15    Melayang
2    0,20    Terapung
3    0,25    Melayang
4    0,30    Terapung
5    0,35    Melayang

D.    Kesimpulan
Berdasarkan data pengamatan yang didapatkan dapat disimpulkan bahwa pergerakan larutan "metilen biru" dengan konsentrasi larutan sukrosa 0,15 M,
0,25 M, dan 0,35 M melayang disebabkan larutan sukrosa tidak dapat masuk ke dalam jaringan umbi kentang dan tentunya umbi kentang tidak mengeluarkan cairan yang dapat bercampur dengan larutan sukrosa.  Namun berbeda pada konsentrasi larutan sukrosa 0,20 M dan 0,30 M dengan hasil pergerakan larutan "metilen biru" yang terapung.
E.    Jawaban Pertanyaan
1.    Mengapa tetesan larutan berwarna tenggelam, mengapung, atau melayang?
Jawaban : Tetesan Berwarna tenggelam dikarenakan konsentrasi lebih besar dibandingkan sukrosa sedangkan tetesan berwarna mengapung dikarenakan  lebih kecil dibandingkan sukrosa dan  Melayang dikarenakan konsentrasi sama besar dibandingkan sukrosa.
2.    Apakah data hasil percobaan sesuai dengan apa yang anda perkirakan sebelum melakukan percobaan? Jika tidak, mengapa?
Jawaban : Tidak,Hal ini dikarenakan kesalahn praktikan dan alat yang digunakan sangat minim.





















II.    MENGHITUNG POTENSIAL AIR JARINGAN BERDASARKAN PERUBAHAN BOBOT


A.    Tujuan Percobaan
Percobaan ini bertujuan untuk mengukur potensial air jaringan umbi kentang.

B.    Cara dan Prinsip Menghitung Nilai Potensial Air Jaringan Kentang berdasarkan Perubahan Bobot
Cara :
1.    Buatlah larutan sukrosa yang konsentrasinya 0,15 M; 0,20 M; 0,25 M; 0,30 M; dan 0,35 M dan tuang 15 ml larutan tersebut ke dalam lima tabung reaksi yang telah disediakan.
2.    Dengan pelubang gabus buatlah silinder umbi kentang, berdiameter 4-5 mm, sebanyak 10 buah.
3.    Dengan menggunakan cutter potonglah masing-masing silinder umbi tersebut dengan ukuran 4 cm, lalu letakkan dalam wadah tertutup.
4.    Ambillah secara acak 3 buah silinder umbi, lalu ukur bobot dan panjangnya, kemudian rendam ke dalam salah satu larutan yang sudah diketahui konsentrasinya selama 50 menit. Lakukan hal yang sama pada silinder –silinder umbi lainnya.
5.    Setelah 50 menit, keluarkan umbi dari larutan dan laplah umbi tersebut dengan kertas hisap atau kertas tisu agar tidak ada air yang menetes, kemudian ukur bobot dan panjangnya.
6.    Dengan regresi sederhana, interpolasikan (perkirakan) konsentrasi sukrosa yang menyebabkan umbi kentang tidak mengalami perubahan bobot.

Prinsip percobaan ini adalah menemukan larutan yang mengkibatkan jaringan tidak mendapatkan air dan sekaligus tidak kehilangan air; hal ini dapat diketahui dengan ada tidaknya perubahan bobot dan/atau volume. Jika setelah direndam bobotnya berkurang, jaringan kehilangan air, dan jika bertambah bobotnya maka jaringan mendapatkan air. Jika tidak terjadi perubahan bobot, maka jaringan tidak memperoleh dan tidak kehilangan air.

C.    Data Percobaan
No.    Konsentrasi (M)    Bobot Awal    Bobot Akhir    Selisih
1    0,15    31    32    1
2    0,20    32    32,2    0,2
3    0,25    31,6    32,1    0,5
4    0,30    32,3    31,6    -0,7
5    0,35    31,9    31,9    0

D.    Kesimpulan
Dari data percobaan yang diperoleh, didapatkan kesimpulan bahwa pada beberapa tingkat konsentrasi larutan sukrosa, terjadi perubahan bobot dari umbi kentang. Hal tersebut membuktikan bahwa konsentrasi sukrosa berpengaruh terhadap perubahan bobot umbi kentang yang dikarenakan perbedaan potensial air antara umbi kentang dan larutan sukrosa. Dari data percobaan dapat dilihat bahwa kentang tidak mengalami perubahan bobot pada konsentrasi sukrosa 0,35 M, yang berarti jaringan kentang tidak mendapatkan air dan tidak kehilangan air.

E.    Jawaban Pertanyaan
1.    Mengapa jaringan kentang mengalami perubahan bobot setelah direndam dalam larutan sukrosa?
Jawaban : Karena terdapat perbedaan potensial air antara larutan sukrosa dan umbi kentang. Sehingga dapat menyebabkan air masuk atau keluar dari jaringan kentang. Hal itu mengakibatkan perubahan bobot pada umbi kentang.
2.    Apakah data hasil percobaan sesuai dengan apa yang Anda perkirakan sebelum melakukan percobaan? Jika ya, jelaskan. Jika tidak, mengapa?
Jawaban : Ya. Pada dasarnya perubahan bobot kentang diakibatkan oleh perbedaan potensial air antara kentang dan larutan sukrosa. Apabila semakin tinggi konsentrasi larutan sukrosa, maka daya menerima airnya akan semakin besar. Maka dari itu, nilai selisih antara bobot awal dan bobor akhir kentang pada konsentrasi larutan sukrosa yang semakin tinggi akan membuat nilai selisih semakin rendah.




























III.    PENGAMATAN PLASMOLISIS DAN DEPLASMOLISIS PADA EPIDERMIS BAWANG MERAH


A.    Tujuan Percobaan
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui dan mengamati proses plasmolisis dan deplasmolisis.

B.    Cara dan Prinsip
Cara :
1.    Buang beberapa lapis bagian luar umbi bawang merah.
2.    Dengan pisau silet, buat sayatan yang sangat tipis sejajar denga epidermis. Sayatan seluas 2 atau 3 mm² sudah cukup besar. Letakkan sayatan ini pada kaca preparat mikroskop,kemudian tambahkan 2 atau 3 tetes air. Tutup dengan kaca penutup preparat, amati dengan perbesaran rendah.
3.    Atur pengamatan pada beberapa sel berwarna dekat sisi sayatan, sel ini sering berdekatan dengan auat dikelilingi oleh sel tak berpigmen. Amati beberapa sel berpigmen dan tak berpigmen dengan perbesaran kuat. Perhatikan keberadaan nukleus dan partikel subseluler lainnya di dalam sel.
4.    Beri 2 atau 3 tetes sukrosa 2 M ( atau NaCl 1 M ) pada salah satu sisi penutup preparat. Tempelkan sisi kertas tisu sepanjang sisi lain dari penutup preparat. Kemudian tambahkan larutan sukrose tetes demi tetes selama kertas hisap tersebut menyerapnya. Perhatikan bahwa volume protoplas mengecil dan benang – benang sitoplasma tak berpigmen tetap menempel pada dinding sel.

Prinsip dari percobaan ini didasarkan pada perbedaan potensial air sel parenkima dengan larutan yang mengelilingi sel tersebut. Dalam keadaan normal, potensial tekanan pada sel parenkima adalah positif dan karenanya protoplasmanya tertekan menempel ke dinding sel. Jika sel ini dikeliling oleh larutan yang berpotensial air lebih negative daripada potensial air isi sel, maka osmosis akan menyebabkan keluarnya air daro protoplasma. Hal ini akan menyebabkan menyusutnya volume protoplasma, yang akhirnya mengakibatkan suatu keadaan yang disebut plasmolisis. Plasmolisis dapat dikembalikan; protoplas dapat menggembung lagi sehingga volumenya menjadi normal seperti semula. Proses ini yang disebut deplasmolisis.

C.    Data Percobaan
Plasmolisis    Deplasmolisis





   

D.    Kesimpulan
Dari data percobaan, dapat disimpulkan bahwa proses plasmolisis dan deplasmolisis pada sel epidermis bawang merah dapat diketahui melalui warna dari sel epidermis tersebut yang berwarna ungu. Bila terjadi plasmolisis, warna sel akan berangsur-angsur berubah menjadi putih dengan bintik-bintik ungu, bintik ungu itulah protoplasma yang mengerut akibat keluarnya cairan sel. Sedangkan deplasmolisis dapat dilihat dari kembalinya warna sel epidermis menjadi ungu karena protoplasma kembali menggembung akibat masuknya cairan sel.

E.    Jawaban Pertanyaan
1.    Apa yang dimaksud plasmolisis dan deplasmolisis?
Jawaban : Plasmólisis adalah proses menyusutnya volume protoplasma akibat keluarnya air dari protoplasma karena potencial air larutan di sekeliling sel lebih negatif daripada potencial air isi sel. Sedangkan deplasmolisis adalah proses menggembungnya volume protoplasma seperti semula akibat masuknya air ke protoplasma karena potencial air larutan di sekeliling sel lebih positif daripada potencial air isi sel.
2.    Apa yang menyebabkan anda dapat mengamati fenomena tersebut pada sel bawang merah ?
Jawaban : warna sel epidermis bawang merah yang membuat kami mengetahui fenomena tersebut. Warna sel bawang merah yang tadinya berwarna ungu saluruhnya, saat terjadi plasmólisis akan berubah menjadi putih dengan bintik-bintik ungu. Sebaliknya, saat terjadi deplasmolisis warna sel bawang merah kembali seperti semula, yaitu berwarna ungu.























IV.    MENGHITUNG POTENSIAL OSMOTIK CAIRAN SEL


A.    Tujuan Percobaan
Percobaan ini bertujuan untuk menghitung potensial osmotic sel dan mengetahui proses plasmolisis insipient.

B.    Cara dan Prinsip
Cara :
1.    Buat larutan sukrosa yang konsentrasinya berbeda, yaitu 0,14; 0,16; 0,18;0,20; 0,22; 0,24; 0,26; M, (BM Sukrosa=342).
2.    Ambil beberapa lapis epidermis bawang merah dan rendam dalam larutan sokosa selama 30 menit. Antar perendam dalam larutan sukrosa sebaiknya     berselisih 5 menit.
3.    Amati jaringan tersebut dengan mikroskop. Catat jumlah sel yang terplasmolisis pada setiap larutan.
4.    Tentukan lrutan sukrosa berkonsentrasi berapa yang menyebabkan 50% sel yang  teramati mengalami plasmolisis.
5.    Hitung potensial osmotic cairan

Prinsip percobaan ini didasarkan pada terjadi atau tidaknya plasmolisis insipien. Plasmolisis insipient terjadi apabila protoplasma hampir saja terlepas dari dinding sel. Volume sel yang tak terplasmolisis sama dengan volume sel yang mengalami plasmolisis insipient. Apabila dapat ditemukan suatu larutan dengan konsentrasi tertentu yang menyebabkan sel mengalami plasmolisis insipient, maka akan dapat dihitung nilai potensial osmotic cairan sel, yaitu sama dengan nilai potensial osmotic larutan tersebut.





C.    Data Percobaan
No.    Konsentrasi larutan (M)    Bawang Merah    Jadam
1    0,14    Normal    Normal
2    0,16    100 % plasmolisis    Normal
3    0,18    70% Plasmolisis    Normal
4    0,20    50 % Palsmolisis     100 % Plasmolisis
5    0,22    45% Plasmolisis    85 % Plasmolisis
6    0,24    30% Plasmolisis    75% Plasmolisis
7    0,26    25% Plasmolisis    55% Plasmolisis

D.    Kesimpulan
1.    Makin pekat larutan, maka kesempatan sel untuk untuk terplasmolisis akan semakin besar dan sebaliknya.   
2.    Plamolisis insipien terjadi apabila protoplasma hampir saja terlepas dari dinding sel.
3.    Potensial osmotik pada sel bawang merah yang mengalami palsmolisis insipien sebesar -4,92 bar.

E. Jawaban Pertanyaan
1.    Apa yang dimaksud dengan plasmolisis insipien? Berapa nilai potensial turgor sel tanaman yang mengalami plasmolisis insipien?
Jawaban : Keadaan dimana protoplasma hampir lepas dari dinding sel.
Π     =  ; M = 0,20 M, T = 300 K
         = 
        = -4,92 bar
2.    Tulislah rumus nilai potensial air sel? (a) sebelum mengalami plasmolisis insipien, (b) pada kondisi plasmolisis insipien, dan (c) pada kondisi plasmolisis
1.    Jawaban : Rumus Potensial air sebelum mengalami plasmolisis :
Ψ = Ψp + Ψπ
Pada kondisi plasmolisis insipient :
Ψ = Ψp + Ψπ ; Ψp = 0
Ψ = Ψπ
Pada kondisi plasmolisis :
Ψ = Ψπ

Keterangan :
Ψ     : Potensial air
Ψp     : Potensial tekanan
Ψπ    : Potensial osmotik
3.    Apakah nilai potensial air sel pada kondisi plasmolisis insipien sama dengan potensial air sel pada kondisi plasmolisis? Jelaskan!
Jawaban : Ya  sama, hal ini dikarenakan pada keadaan plasmolisis insipient ataupun plasmolisis, potensial tekanan pada sel sama dengan 0. Plasmolisis insipien terjadi pada jaringan yang separuh jumlahnya selnya mengalami plasmolisis. Hal ini terjadi karena tekanan di dalam sel sama dengan 0. Sedangkan pada plasmolisis dikarenakan oleh adanya  potensial  osmosis  cairan  sel  air  murni  cenderung  untuk memasuki  sel,  sedangkan  potensial  turgor  yang  berada  di  dalam  sel mengakibatkan air untuk cenderung meninggalkan sel. Saat pengaturan potensial osmosis maka potensial turgor harus sama dengan 0. Agar potensial turgor sama dengan 0 maka haruslah terjadi plasmolisis.










V.    TRANSPIRASI TUMBUHAN


A.    Tujuan Percobaan
Percobaan ini bertujuan untuk mengamati proses transport air melalui xylem.

B.    Cara dan Prinsip
Cara :
1.    Dipilih 6 cabang berdaun dari tanaman Acalypha sp dengan ukuran yang hampir  sama.potong kedua cabang tersebut dengan sedemikian rupa.
2.    Dikuliti keenam cabang tersebut sepanjang 2cm dari bekas potongan.
3.    Untuk menutup xilem, olesi ujung cabang bekas potongan dengan vaselin. Sedangkan  untuk menutup floem, ujung dibiarkan terbuka. Bagian batang yang dikuliti diolesi dengan vaselin sampai batas ujung cabang. Digunakan spatula untuk meratakan vaselin.
4.    Diisi keenam botol dengan air kran dengan volume yang sama( sampai leher botol) yitu 300 ml. Dimasukkan cabang kedalam lubang pada sumbat gabus dan ditutup, dan ditandai air pada saat percobaan dimulai.
5.    Amati perubahan tinggi permukaan air 2 hari sesudah dan 7 hari sesudah praktikum.

Prinsip percobaan ini adalah bila vaselin diolesi pada ujung cabang bekas potongan, air dalam botol akn berkurang sedikit sedangkan bila vaselin diolesi pada bagian batang yang dikuliti, air uang terdapat dalam botol akan berkurang banyak.







C.    Data Percobaan
Perlakuan    Pengamatan    Keterangan
    Hari ke-2 (ml)    Hari ke-7 (ml)   
Xilem           
U1    325    320    Daun layu
U2    330    327    Daun layu
U3    324    320    Daun layu

Floem           
U1    290    270    Daun masih hijau
U2    285    273    Daun masih hijau
U3    335    330    Daun masih hijau

D.    Kesimpulan
1.    Vaselin yang diolesi pada xylem akan mengakibatkan air yang berkurang sedikit sedangkan pada floem air yang berkurang banyak.
2.    Air yang berkurang banyak akibat floem diolesi oleh vaselin karena jaringan xylem mengangkut air yang ada ke bagian daun yang kemudian akn menjadi uap air akibat perbedaan potensial antara atmosfer (lebih negative) dengan daun.
3.    Pada xylem tanamannya lebih layu dibandingkan dengan floem.

E.    Jawaban Pertanyaan
Apakah data hasil percobaan sesuai dengan yang anda perkirakan sebelum melakukan percobaan? Jika ya, jelaskan dan jika tidak, mengapa?
Jawaban : Dari data hasil percobaan ternyata sesuai dengan perkiraan sebelumnya, yaitu bila ujung cabang bekas potongan yang diolesi oleh vaselin air di alam botol akan berkurang sedikit sedangkan bila cabang yang dikuliti diolesi vaselin air di dalam botol akan berkurang banyak. Hal ini disebabkan oleh potensial air yang berada di dalam botol lebih tinggi dibandingkan di atmosfer. Sehingga air yang ada menju ke xylem lalu oleh xylem dialirkan ke bagian daun. Umumnya, potensial air atmosfer lebih negative dibanding pada potensial air daun sehingga tumbuhan cenderung melepas air ke atmosfer dalam bentuk uap air.  Sedangkan pada malam hari, tanaman sedikit kehilngan air tetapi penyerapan air terus berlangsung sampai semua sel tumbuhan berada dalam keadaan turgid penuh dimana potensial solute daun memiliki nilai yang kurang lebih sama dengan potensial tekanan sehingga tidak terjadi pergerakan air (difusi). Hal inilah yang menyebabkan daun pada floem yang diolesi vaselin tidak layu, karena jumlah air yang hilang tidak berbeda jauh dengan jumlah air yang masuk ke dalam tumbuhan. Berbeda pada perlakuan dimana xylem yang diolesi oleh vaselin. Air yang berkurang sedikit hal ini disebabkan oleh aliran air menuju xylem terhambat karena adanya vaselin. Sehingga air yang hilang tidak banyak, namun walau begitu air yang masuk pun tidak lebih banyak disbanding air yang keluar sehingga daun menjadi layu.




















VI.    FOTOSINTESIS


A.    Tujuan Percobaan
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan laju fotosintesis potongan daun.

B.    Cara dan Prinsip
Cara :
1.    Larutan penyangga karbondioksida ( CO2 ) ditaruh dalam tabung.
2.    Letakkan lidi diatas larutan penyangga tersebut.
3.    Masukkan potongan daun diatas lidi tanpa mengenai larutan penyangga.
4.    Tabung dipasang pada Warburg, celah celah ditutupi menggunakan vaselin.
5.    Amati pengaruh tinggi kolom cairan berwarna setelah beberapa menit.
6.    Amati pengaruh konsentrasi CO2, intensitas cahaya, dan kualitas cahaya terhadap laju fotosintesis.

Prinsip pengukuran laju fotosintesis dengan menggunakan peralatan Warburg didasarkan pada perubahan tekanan dalam wadah akibat perubahan konsentrasi gas oksigen di dalamnya. Dalam hal ini, tekanan udara dalam wadah naik.

C.    Data Percobaan
Waktu ( menit )    Selisih / Perubahan
5    0
10    0
15    0,1




D.    Kesimpulan
Dari data percobaan dapat disimpulkan bahwa proses fotosintesis telah terjadi. Hal itu dapat diketahui dari perubahan tinggi dari larutan berwarna yang terdapat pada kaki manometer. Pada menit ke-15 terjadi perubahan tinggi dari larutan berwarna sebanyak 0,1. Hal itu menandakan adanya perubahan konsentrasi dari O2 yang semakin meningkat seiring dengan terus berlangsungnya proses fotosintesis.

E.    Jawaban Pertanyaan
Apakah data hasil percobaan sesuai dengan apa yang Anda perkirakan sebelum melakukan percobaan ? Jika ya, jelaskan. Jika tidak mengapa ?
Jawaban : Ya, karena sesuai dengan prinsip pengukuran fotosintesis yaitu didasarkan pada perubahan konsentrasi gas oksigen di dalam peralatan Warburg. Bila terdapat selisih, berarti terjadi perubahan konsentrasi di dalam wadah. Bila selisih bernilai positif, hal itu membuktikan meningkatnya tekanan udara yang berasal dari gas O2 yang merupakan produk fotosintesis.
















VII.    RESPIRASI


A.    Tujuan Percobaan
Percobaan ini bertujuan untuk mengukur laju respirasi daun dan kecambah.

B.    Cara dan Prinsip Percobaan
Cara :
1.    Disiapkan daun dan kecambah tanaman :
a.    Potonglah daun dengan pelubang gabus, siapkan 5 potongan
b.    Ambil beberapa buah kecambah, timbang bobotnya (sekitar 5 gram)
2.    Siapkan peralatan
3.    Masukkan sampel ke dalam labu Erlenmeyer, tutup semua lubang rapat-rapat dengan Vaseline
4.    Amati dan ukur perubahan tinggi kolom cairan berwarna dalam menometer setiap 5 menit

Prinsip dari percobaan ini adalah mengukur perubahan tekanan akibat pertukaran gas oleh suatu jaringan atau suspensi sel yang berada dalam wadah yang tertutup rapat. Perubahan tekanan dapat dilihat pada kaki manometer yang dihubungkan dengan wadah tersebut. Dalam hal ini, jika tekanan dalam wadah berubah maka akan terjadi perubahan tinggi permukaan cairan berwarna dalam manometer.

C.    Data Percobaan
Angka awal kanan = kiri = 14,6
5 Menit ke-    Kanan    Kiri
1    11,2    18
2    11    18,2
3    10,6    18,6
4    10,6    18,6

D.    Kesimpulan
Dari data percobaan dapat disimpulkan bahwa proses respirasi telah terjadi. Hal itu dapat diketahui dari perubahan tinggi dari larutan berwarna yang terdapat pada kaki manometer. Terjadi perubahan tinggi dari larutan berwarna pada 5 menit pertama hingga 5 menit ke-tiga.. Hal itu menandakan adanya perubahan konsentrasi dari O2 yang semakin menurun seiring dengan terus berlangsungnya proses respirasi.

E.    Jawaban Pertanyaan
Apakah data hasil percobaan sesuai dengan apa yang Anda perkirakan sebelum melakukan percobaan ? Jika ya, jelaskan. Jika tidak mengapa ?
Jawaban : Ya, karena sesuai dengan prinsip pengukuran fotosintesis yaitu didasarkan pada perubahan konsentrasi gas oksigen di dalam peralatan Warburg. Bila terdapat selisih, berarti terjadi perubahan konsentrasi di dalam wadah. Bila selisih bernilai negatif, hal itu membuktikan menurunnya tekanan udara yang berasal dari gas O2 yang merupakan sumber respirasi.
















VIII.    GEOTROPISME AKAR JAGUNG


A.    Tujuan Percobaan
Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari geotropisme pada akar kecambah jagung.

B.    Cara dan Prinsip
Cara :
1.    Ambil benih jagung dan tanam pada kertas merang yang telah diperciki air dan digulung.
2.    Simpan benih dalam tempat gelap selama 2 hari (sampai terbentuk akar primer ± 2 cm).
3.    Setelah 2 hari, keluarkan dan pilih kecambah dengan akar penampilan yang seragam.
4.    Potong 2 mm ujung akar pada sebagian kecambah dan sisanya biarkan utuh.
5.    Setelah itu tanam pada cawan petri (sebagian diletakkan vertical dan sebagian lainnya horizontal).
6.    Beri tanda setiap cawan petri.
7.    Amati setelah 2 jam.

Prinsip percobaan ini adalah didasarkan pada pergerakkan akar akibat adanya gaya tarik bumi. Akar yang tumbuh kea rah pusat bumi dianggap sebagai geotrofik positif. Baik geotrofik poritif maupun negative adalah sebagai akibat dari perbedaan laju pertumbuhan pada sisi atas dan sisi bawah suatu organ.







C.    Data Percobaan
KECAMBAH YANG DIPOTONG (HORIZONTAL)    KECAMBAH TIDAK DIPOTONG (HORIZONTAL)

Geotrofik +   
Geotrofik -
KECAMBAH YANG DIPOTONG (VERTIKAL)    KECAMBAH TIDAK DIPOTONG (VERTIKAL)

Geotrofik +   
Geotrofik -

D.    Kesimpulan
Dari data hasil pengamatan, dapat disimpulkan bahwa gaya gravitasi dapat mempengaruhi pergerakkan akar menuju kea rah pusat bumi. Teori mekanisme geotropisme yang dinyatakan oleh Cholodny-Went adalah bahwa auksin terakumulasi pada bagian bawah organ; dan auksin ini kemudian menstimulir pertumbuhan pada sisi bawah batang, tapi menghambat pertumbuhan sisi bawah akar, diduga karena konsentrasi auksin pada akar terlalu tinggi sehingga malah menghambat pertumbuhan akar.
Tanggapan terhadap gravitasi diterima oleh bahan yang disebut “statolit” yang ada dalam sel. Statolit akan bermigrasi ke dasar sel dan diduga menyebabkan akumulasi auksin pada sisi sebelah bawah suatu organ. Sel-sel yang banyak mengandung statolit terletak pada tudung akar. Maka dari itu, pemotongan ujung akar di mana sel-sel tudung akar yang banyak mengandung statolit dibuang akan menghambat tanggapan terhadap gravitasi.

E.    Jawaban Pertanyaan
Apakah data hasil percobaan sesuai dengan apa yang Anda perkirakan sebelum melakukan percobaan? Jika ya jelaskan. Jika tidak, mengapa?
Jawaban : Tidak, teori Cholodny-Went menyebutkan bahwa akar yang dipotong akan menghambat tanggapan terhadap gravitasi. Seharusnya, akar yang dipotong memiliki geotrofik -, tetapi data hasil pengamatan menunjukkan hal yang berlainan, akar kecambah yang dipotong menghasilkan geotropisme + atau begerak ke arah pusat bumi, sedangkan akar kecambah yang yang tidak dipotong malah menunjukkan geotrofik -.

TEKSTUR TANAH




TEKSTUR TANAH
(Laporan Kolektif Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah)





Oleh
Kelompok 5

Nico Irvan Pradana (1014121139)
Restu Yassin (1014121150)
Rudianto Butar-butar (1014121163)
Shintya Wulandari (1014121170)
Sri Nur Arifta Oktavia Irwani (1014121174)
Tety Maryenti (1014121179)

)



















LABORATORIUM ILMU TANAH
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2011



LEMBAR PENGESAHAN


Judul Praktikum    : Tekstur Tanah
Tanggal Praktikum        : 29 Oktober 2011
Tempat Praktikum        : Laboratorium Ilmu Tanah
Nama                :  Nico Irvan Pradana (1014121139)
Restu Yassin (1014121150)
Rudianto Butar-butar (1014121163)
Shintya Wulandari (1014121170)
Sri Nur Arifta Oktavia Irwani (1014121174)
Tety Maryenti (1014121179)

Jurusan            : Agroteknologi
Kelompok            : 5 (Lima)


Bandar Lampung, 19 November 2011
                                                                          Mengetahui,
                                                                          Asisten




                                                                           Yurres Satrio Wibowo
                                                                          0814013236





I.    PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Tanah adalah bagian kerak bumi yang tersusun atas mineral dan bahan organik. Tanah sangat berperan dalam kehidupan makhluk hidup di bumi, karena tanah membantu pertumbuhan tumbuhan dengan menyediakan hara, air, dan unsur-unsur yang diperlukan tumbuhan untuk tumbuh dan dapat juga sebagai penopang akar bagi tumbuhan.

Di dalam tanah terdapat struktur tanah. Stuktur tanah adalah susunan relative dari tiga ukuran zarah tanah, yaitu pasir berukuran 2mm-5mm, debu berukuran 50-2mm dan liat berukuran < 2mm. Pembagian ini berdasarkan ukuran partikel ketiga jenis tanah tersebut. Pasir memiliki ukuran partikel paling besar sedangkan lempung memiliki ukuran partikel yang paling kecil diantara ketiga ukuran zarah tanah.

Tekstur tanah merupakan gambaran tingkat kekasaran atau kehalusan bahan mineral yang menyusun tanah. Tekstur tanah juga sering berhubungan dengan permeabilitas, daya tahan memegang air, aerase, dapat pula sebagai kapasitastukar kation serta kesuburan tanah. Walaupun faktor-faktor lainnya dapat mengubah hubungan tersebut. Dalam klasifikasi tanah (taksonomi tanah) tingkat famili, kasar halusnya ditunjukkan dalam sebaran besar butir (partcle size distribution) yang merupakan penyederhanaan dari kelas tekstur tanah dengan memperhatikan pula fraksi tanah yang lebih besar atau kasar dari pasir. Untuk dapat lebih memahami dan jua mengerti tentang tekstur tanah, maka dilakukanlah praktikum mengenai tekstur tanah.

1.2 Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah
1.    Mengetahui cara penetapan tekstur tanah secara garis besar
2.    Mengetahui kelas-kelas tekstur tanah
3.    Mengetahui kelas-kelas tekstur tanah
4.    Menentukan tekstur dari contoh tanah dengan menggunkan segitiga tekstur




























II. TINJAUAN PUSTAKA


Tekstur tanah menunjukkan kasar atau halusnya suatu tanah. Terdapat perbedaan penting lainnya antara pasir, dan liat pada beberapa tanah yang dihubungkan dengan kemampuan tanah tertentu untuk menyediakan elemen-elemen tanaman yang esensial (kesuburan tanah). Pada umumnya unsur hara yang esensial dan dapat tersedia sebagai partikel debu, area permukaan per gram nya lebih besar dari pada pasir, yang menyebabkan tanah lebih subur dari pada tanah berpasir. Hukum stokes menghubungkan kecepatan penurunan sebatas dari suatu bola yang lunak dan kasar dalam suatu cairan yang kental yang diketahui densitas dan viskositas terhadap diameternya jika dicoba pada kekuatan lapanga yang diketahui (Foth, 1991).

Besar partikel tanah relatif sangat kecil, diistilahkan dengan tekstur. Tekstur menunjukkan sifat halus atau kasar butiran-butiran tanah lebih khas lagi tekstur ditentukan oleh perimbangan kandungan anatara pasir, liat, dan debu yang terdapat dalam tanah. Suatu gumpal tanah dapat tersusun atau tiedak hanya oleh satu macam tekstur sendiri. Langkah pertama untuk menentukan tekstur tanah yaitu dengan cara menganalisis fraksi-fraksi tanah tersebut. Liat adalah fraksi yang berpengaruh terhadapa campuran fraksi lain. Untuk menentukan tekstur tanah, USDA telah membuat suatu diagram bidang yang berfungsi membantu membandingkan persentasenya (Suryatna, 1989).

Tekstur tanah merupakan salah satu sifat tanah yang sangat menentukan kemampuan tanah untuk menunjang pertumbuhan tanaman. Tekstur tanah akan memepengaruhi kemampuan tanah untuk menyimpan dan menghantarkan air, menmyimpan dan menyediakan unsur hara bagi tanaman. Tanah bertekstur pasir, yaitu tanah dengan kandungan pasir > 70%, porositasnya rendah <40 aerasinya="aerasinya" air="air" akan="akan" baik="baik" berukuran="berukuran" besar="besar" br="br" cepat="cepat" daya="daya" hantar="hantar" haranya="haranya" kemampuan="kemampuan" menyimpan="menyimpan" pori="pori" rendah="rendah" ruang="ruang" sebagian="sebagian" sehungga="sehungga" slami="slami" tetapi="tetapi" zat="zat">
Tekstur tanah menunjukkan komposisi partikel penyusun tanah yang dinyatakan dalam perbandingan proporsi relative antara fraksi dasar berdiamater 2.00-0.20 mm/2000-200 mikrometer, debu berdiamater 0.20-0.002 mm atau 200-2 mikrometer dan liat berdiamater <2 .="." 2="2" atas="atas" bebatuan="bebatuan" berukuran="berukuran" br="br" dan="dan" di="di" fraksi="fraksi" kecil="kecil" krikil="krikil" mm="mm" oth="oth" partikel="partikel" sebagai="sebagai" seperti="seperti" tanah="tanah" tergolong="tergolong" tidak="tidak">
Fraksi pasir umumnya didominasi oleh mineral kuarsa yang sangat tahan terhadap pelapukan. Sedangkan fraksi debu biasanya berasal dari mineral feidspar dan mika yang cepat lapuk. Pada saat pelapukannya akan membebaslan sejumlah hara, sehingga tanah bertekstru debu umumnya lebih subur ketimbang yang bertekstur pasir (Darmawijaya, 1990).

Untuk menentukan tekstur tanah, USDA telah membuat suatu perbandingan dengan menggunakan diagram untuk membandingkan persentase fraksi liat, debu, dan pasir. Diagram tersebut dinamakan segitiga tekstur tanah. Segitiga tersebut adalah segitiga sama sisi dengan titik puncak liat. Kemudian titik sudut adalah debu dan pasir. Titik-titik fraksi tersebut adalah titik kedudukan 100% fraksi yang bersangkutan (Munir,1996).

Tanah liat juga dapat disebut tanah berat karena sulit diolah. Tanah berlempung, tanah dengan proporsi pasir, debu, dan liat sedemikian rupa sehingga sifat tanahnya berada diantara tanah berpasir dan berliat. Ujadi aerasi dan tata udara cukup baik. Kemampuan menyimpan dan menyediakan air untuk tanaman tinggi. Mineral liat merupakan kristalyang terdiri dari susunan silika tetrahedral dan oktahedral. Di dalam tanah selain mineral liat, muatan negatif juga berasal dari bahan organik. Muatan negatif ini berasal dari ionisasi hidrogen pada gugusan hidroksil atau penolik (Islami dan Utomo,1995)



III. TUNJAUAN PUSTAKA


3.1 Alat dan Bahan

Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah
•    Air
•    Timbangan
•    Erlenmeyer
•    Pengaduk listrik
•    Hydrometer
•    Stopwatch
•    Termometer
•    Gelas ukur
•    Tabung sedimentasi

Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah
Tanah
Tanah kering lolos ayakan 2mm
Na-heksametafosfat 5%


3.2 Cara Kerja

Prosedur Kerja I (Di lapang)

Massa tanah kering atau lembab


•    Dibasahi secukupnya
•    Dipijat diantara ibu jari dan telunjuk
•    Dibentuk menjadi bola lembab
Tanah kasar dan licin

•    Diperhatikan
•    Dirasakan
Bola tanah yang lembab

•    Digulung-gulung
•    Diamati daya tahan terhadap tekanan dan kelekatan
Bola tanah



Hasil Pengamatan


Prosedur Kerja II (Di Laboratorium)

Tanah
•    Ditimbang 50 gram
•    Dimasukkan ke erlenmeyer
•    Ditambahkan 100 ml calgon
•    Dikocok
•    Dibiarkan 10 menit
Suspensi tanah
•    Dimasukkan ke dalam gelas
•    Ditambahkan 400 ml aquades
•    Dikocok selama 5 menit

Suspensi tanah
•    Dipindahkan ke dalam gelas ukur1000 ml
•    Ditambahkan air
•    Diaduk selama 2 menit
Alat pengaduk

•    Diangkat

Stopwatch

•    Dinyalakan
•   
Hidrometer
•    Dimasukkan sekitar 20 detik
•    Angka dibaca stelah 40 detik
•    Alat dicuci
•    Dibaca suhunya dengan termometer (T1)
Suspensi tanah
•    Dibiarkan selama 2 jam
•    Dimasukkan hidrometer kedalamnya
•    Dibaca sebagai pembacaan kedua
Hidrometer
•    Diangkat
•    Diukur suhunya (T2)
Suspensi tanah
•    Ditentukan tekstur melalui segitiga tekstur




IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Penetapan Tekstur Tanah Di Lapang (Kualitatif)
Jenis Tanah    Ulangan    Rasa dan Sifat Tanah    Tekstur Tanah
Tanah bagian atas (T1)    1    Rasa agak jelas, membentuk bola agak keras, mudah hancur serta melekat    Lempung berpasir
Tanah bagian atas (T2)    2    Rasa kasar agak jelas, bola agak keras bentuknya, mudah hancur dan melekat.    Lempung berpasir
Tanah bagian bawah (T1)    1    Rasa licin agak kasar, membentuk bola dalam keadaan kering, sukar dipijat, mudah digulung, serta melekat sekali    Liat berpasir
Tanah bagian bawah (T1)    1    Rasa berat, membentuk bola baik, serta melekat sekali.    Liat

4.2 Hasil Penetapan Tekstur Tanah Di Laboratorium (Kuantitatif)
Jenis tanah    Ulangan    Persentase    Tekstur tanah
        pasir    debu    liat   
Tanah tempat pertama (T1)    1    46    22    32    Lempung berliat
Tanah tempat kedua (T2)    1    69    14    17    Lempung berpasir


4.3 Pembahasan

Hasil penetapan tekstur tanah di lapang, didapat tekstur tanah bagian atas yaitu lempung berpasir dengan ciri-ciri rasa agak jelas, membentuk bola agak keras, mudah hancur serta melekat. Tekstur tanah bagian atas t2 pada ulangan 2 didapatkan hasil yang sama pada teksturnya yaitu lempung berpasir.

Sedangkan pada bagian bawah t1 ulangan 1, didapatkan hasil yaitu liat berpasir dengan ciri-cirinya yaitu rasa licin agak kasar, membentuk bola dalam keadaan kering, sukar dipijat, mudah digulung, serta melekat sekali, sedangkan pada bagian bawah (t2) ulangan 2 didapatkan tekstur liat, dengan ciri-cirinya rasa berat, membentuk bola baik, serta melekat sekali.

Hasil penetapan tekstur tanah di laboratorium yaitu pasir 46%, debu 22%, dan liat 32%, sehingga didapatkan tekstur tanahnya yaitu lempung berliat. Pada t2 hasil persentase didapat yaitu pasir 69%, debu 14%, dan liat 17%, sehingga tekstur yang didapat adalah lempung berpasir.

Jadi penetapan tekstur di lapang yaitu lempung berpasir, lempung berpasir, liat berpasir, liat, sedangkan pada tekstur di laboratorium yaitu lempung berliat dan lempung berpasir.
































V. KESIMPULAN


Adapun kesimpulan yang telah didapatkan dari pelaksanaan praktikum ini adalah
1.    Penetapan contoh tanah dapat dilakukan dengan 2 metode, yaitu metode kuantitatif, dan metode kualitatif
2.    Tekstur tanah pada contoh tanah di laboeratorium yaitu lempung berliat dan lempung berpasir
3.    Tekstur tanah pada contoh di lapang yaitu lempung berpasir, lempung berpassir, liat berpasir, dan liat.
4.    Semakin kecil ukuran partikel maka luas permukaannya semakin besar. Jadi luas permukaan fraksi liat>fraksi debu>fraksi pasir.



DAFTAR PUSTAKA


Darmawijaya,M.1990. Klasifikasi Tanah. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Henry, Foth. D.1991. DDIT Edisi Ketujuh. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Henry, Foth. D.1998. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Islami titiek dan utama, Wadi hadi.1995. Hubungan Tanah,Air, dan Tanaman. Malang :IKIP Semarang Press

Munir,M.1996. Tanah-Tanah Utama Indonesia. PT dunia Pustaka Jaya :jakarta

Rafi Suryatna.1995. Ilmu tanah. Bandung : Angkasa.


























LAMPIRAN

















PERTANYAAN


1.    Apakah fungsi dari larutan calgon (Na-heksametafosfat 5%) yang digunakan pada penetapan tekstur dengan metode hidrometer?

2.    Jika suatu tanah memiliki persentase pasir 40%, liat 23%, debu 37%, apakah teksturnya> gunakan segitiga tekstur!

Jawab
1.    larutan calgon berfungsi untuk mendispersikan partikel tanah agar memisah

2.    Teksturnya adalah lempung

















PERHITUNGAN


1. Perhitungan tanah untuk tempat yang pertama
H1= 22
H2=12
BK=45.6 Gram
FK=2.52


%debu+%liat =
=
    = 54%

%liat        =
        =
        = 32%

%debu        = (%debu+%liat)-%liat
        = 54%-32%
        = 22%

%pasir        = 100%-(%debu+%liat)
        =100%-22%
        = 46%


1. Perhitungan tanah untuk tempat yang kedua
H1= 11
H2=5
BK=45.6 Gram
FK=2.52


%debu+%liat =
=
    = 31%

%liat        =
        =
        = 17%

%debu        = (%debu+%liat)-%liat
        = 31%-17%
        = 14%

%pasir        = 100%-(%debu+%liat)
        =100%-31%
        = 69%


PERKEBUNAN KARET DI PTPN VII UNIT USAHA BERGEN LAMPUNG SELATAN






PERKEBUNAN KARET DI PTPN VII UNIT USAHA BERGEN LAMPUNG SELATAN
(Laporan Kunjungan Lapang Produksi Tanaman Perkebunan)






Kelompok 1

Mutoharoh            1014121136
Ni Wayan Devhi Lestari    1014121138
Novri Dwi Damayanti        1014121142
Restu Yasin Adi Putra        1014121150
Retta Ramadhina Rias        1014121151
Taufik mahfut            1014121178














PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2012





I.    PENDAHULUAN



    Jenis perkebunan yang kami kunjungi adalah perkebunan perseroan (persero), dengan luas area 459477 ha. Dari lus keseluruhan ini kami hanya meninjau atau mengambil sampel dari AFD III dengan luasan masing-masing TM-349 TBM-239, totalnya 588 ha. Letak perkebunan di Desa Kertosari, Kecamatan Tanjung Sari, Lampung Selatan. Jarak perkebunan dari bandar lampung adalah kurang lebih 30 km. Keadaan sosial masyarat di sekitar perkebunan adalah pra sejahtera, dengan pendidikan mulai dari tamatan SD, SMP, SMA, dan Sarjana. Dengan mata pencaharian sebagian besar bekerja di perkebunan, dengan pendapatan perkapita mulai dari Rp 500.000,- sampai Rp 2.000.000,- (keatas).
    Sejarah perkebunan
o    Unit usaha Bergen didirikan pada tahun 1918 oleh Belanda dibawah Robert Onderheming Watering dan Loeber NV dengan luas konsensi 6000 ha tetapi pada tahun itu baru ditanami 1500 ha.
o    Pada zaman Jepang, dibawah pengawasan nemora Company, tahun 1945 kembali kepada RO Watering dan Loeber NV dan mengadakan rehabilitasi kebun yang hancur akibat perang.
o    Pada tahun 1957 diambil alih oleh pemerintah Republik Indonesia dibawah PPN Karet Kesatuan I Lampung (kesatuan II di Palembang). Tahun 1962 dirubah menjadi PPN Karet IX dan pada tahun 1968 menjadi PNP X.
o    Tahun 1973 rehabilitasi kebun dan mulai menanam kelapa sawit dengan modal dari World Bank. Tahun 1980 ( 1 juli !980) ditetapkan menajdi PT perkebunan X (persero).
o    Tahun 1976 ditanam kelapa Bapak seluas 46 ha ditambah hybrid seluas 40 ha. Tahun 1978 ditanam kelapa hybrida seluas 14 ha.
o    Pada tahun 1988/1989 ditanam kakao seluas 100 ha, Intercroping dengan tanaman kelapa, yang kemudian pada awal tahun 1996 diganti dengan tanaman karet kembali.
o    Pada tahun 1982/1983 unit usaha Bergen terlewati pembangunan jalan lintas Sumatera (jalan Ir. Sutami) yaitu jalan yang menghubungkan Panjang – Sri Bhawono menuju jalan Lintas Sumatera melalui Lintas Timur, sehingga beberapa hektar arealnya berkurang.
o    Berdasarkan kebijaksanaan direksi PT perkebunan X persero melalui surat Keputusan Nomor : X.6/Kpts/126/90 tanggal 20 Juli 1990, kebun Kalianda terhitung mulai tanggal 1 Agustus 1990 digabung dengan unit usah Bergen sehingga merupakan afdeling/ bagian dari unit usaha Bergen.
o    Tanaman kelapa hybrida afdeling kalianda berdasarkan Surat Keputusan direksi nomor : X.7/Kpts/188/1993 tanggal 5 Mei 1993 dinyatakan sebagai pohon pelindung bagi tanaman kakao, sehingga tidak dianggarkan biaya pemeliharaan untuk tanaman kelapa.
o    Pada tahun 1996 tepatnya tanggal 11 maret 1996 sehubungan dengan konsolidasi PTP. Unit Usaha Bergen menjadi bagian PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) dengan kantor direksi di Bandar Lampung.


















II.    LINGKUNGAN PERKEBUNAN


2.1    Tanah

Ketinggian tempat dari permukaan laut yaitu berkisar 600 mdpl. Jenis tanahnya adalah coklat berpasir, pH tanah 4,5-6.

2.2    Iklim

Keadaan iklim disekitar perkebunan adalah sub tropis, dengan curah hujan 2332 mm/th.














Keadaan tanah di perkebunan.





III.    TEKNIK BUDIDAYA


3.1    Pembibitan

Pembibitan yang dilakukan/ sistem pembibitan yang digunakan adalah sistem pembibitan ganda yaitu melalui tahap pre nursery dan main nursery. Kebutuhan klatak 4000 btr/ha, Kelayakan lokasi bibitan: Solum tanah ≥ 30 cm, jarak sumber air ≤ 100 m, ketersediaan volume air cukup atau setara 40 m3/ha/ hari. Pengolahan lahan bibitan:
•    Subsoiling (ex Karet dan ex coklat) kedalaman ≥ 40 cm Pembersihan dan pengumpulan  akar, ranting dan cabang
•    Bajak kedalaman ≥ 27 cm
•    Ayap I versih dari akar dan ranting
•    Garu I kedalaman ≥ 20 cm
•    Ayap II bersih dari akar dan ranting
•    Garu II kedalaman ≥ 20 cm
•    Ayap III bersih dari akar dan ranting

3.1.1 Bibitan polybag

     Jenis klon yang ditanam PB 260 tahun 2005 mulai tanam pada bulan oktober  dengan jarak tanam yang digunakan 3,2 x 5 m dengan populasi 1 ha sebanyak 625 pohon dan menggunakan sistem jarak tanam yang digunakan adalah
     Untuk mencegah tumbuhnya gulma ditanami LCC mukuna tanaman merambat yang daya tumbuhnya 1 malam 17 cm
     Drainase lancar kalau ada areal yang tebing dibuat rorak bersambung dengan panjang 5 m dan lebar 2 m.








3.1.2 Persiapan tanam

a)    Penanaman LPC  jenis Mucuna bracteata, dengan kerapatan 625 batang/ha.
b)    Pembuatan lubang tanam manual. Ukuran atas : 60 x 60 cm, ukuran bawah: 50 x 50 cm, kedalaman 60 cm atau dengan mekanis (Hole Digger), diameter 60 cm, kedalaman 60 cm.
c)    Pemberian belerang pada lobang tanam: 100 g/lobang.
d)    Pemupukan lobang tanam: 2 minggu sebalum tanam, dosis pupuk RP 250 g/lobang + kompos 5 kg/pohon.








Bibit LCC sebelum di tanam dilapang          bibit LCC yang akan dipindah tanam

3.2 Penanaman
Penanaman LCC dilakukan bersamaan dengan penanaman bibit karet, sebelum penanaman dibuat lubang tanam untuk LCC dan karet, dilakukan pengajiran pada tanman karet dengan jarak tanam yang akan digunakan yaitu 3m x 5 m. Penanaman dilakukan bersamaan dengan musim penghujan, karena dengan bersamaan musim hujan kebutuhan air yang tinggi dapat dpenuhi. Lubang tanam yang akan digunakan untuk penanaman karet berukuran 40 x 60 cm, dengan menggunakan bor untuk pelubangan. Kemudian barulah karet ditanam sesuai dengan ajiran yang dibuat.








Gambar pengajiran            gambar lubang tanam



















IV.    PEMELIHARAAN TANAMAN


4.1 Pemupukan

Persemaian :  Pupuk NPK 15.15.6.4 / extra pada umur 1 bulan 5 g/pohon/aplikasi 1 tahun 2 Kali dengan pupuk NPK, ZA,  TSP. Sedangkan pada bibitan under stump dengan pupuk NPK 15.15.6.4 dengan dosis 30 g/phon, pada bibitan polybag dengan pupuk yang sama tetapi dosisnya berbeda yaitu 40 g/pohon, dan pupuk RP dosisnya 25 g/pohon, pada kebun entres pupuk NPK 15.15.6.4 dosisnya 60 g/pohon. Pada TBM I, TBM II, TBM III, TBM IV adalah sebagai berikut:

     TBM 1
Tanaman tidak tergenang , air lancar, parit bersih. Pembuangan tunas-tunas liar secara teratus sampai dengan tinggi 250 cm, dengan rotasi 3x 1 bulan. Pemupukan dilakukan 2 kali dalam setahun dan pupuk yang digunakan adalah ZA, SP-36, MOP, KIES dengan masing-masing dosis yaitu 40 g/pohon (ZA), 15 g/pohon (SP-36), 30 g/pohon (MOP), dan 10 g/pohon (KIES).
     TBM 2
Pemeliharaan sama seperti TBM 1, telah tumbuh percanangan yang lumayan banyak. Pemupukan dilakukan sama seperti TBM-1, namun dengan dosis yang berbeda yaitu pupuk ZA dosisnya: 50 g/pohon, SP-36 dosisnya: 20 g/pohon, pupuk MOP dosisnya: 50 g/pohon, dan pupuk KIES dosisnya: 20 g/pohon.
     TBM 3
Pemeliharaan sama seperti TBM-TBM sebelumnya hanya pada pemupukan yang berbeda, yaitu pupuk ZA (dosisnya: 150 g/pohon), SP-36 (dosisnya: 60 g/pohon), MOP (dosisnya: 75 g/pohon), dan KIES (dosisnya: 25 g/pohon). Serta telah mulai dilakukan pengukuran lilit batang (untuk mengetahui kapan memulai sadapan), lilit batang yang telah diukur yaitu 32.15 cm.
     TBM 4
Pemeliharaan sama seperti TBM-TBM sebelumnya hanya pada pemupukan yang berbeda, yaitu pupuk ZA (dosisnya: 150 g/pohon), SP-36 (dosisnya: 60 g/pohon), MOP (dosisnya: 75 g/pohon), dan KIES (dosisnya: 25 g/pohon). Lilit batang yang telah diukur yaitu antara 39-45 cm, atau dengan kata lain tanaman pada TBM 4 ini telah dapat dipanen atau disadap.
     TBM 5
TBM 5 sama hal nya dengan TM (tanaman menghasilkan) yaitu apabila dalam satu blok tanaman yang luasnya 1 ha terdapat 60% tanaman yang lilit batangnya telah mencapai 45 cm dan ketebalan kulitnya 7 mm, telah dapat dipanen atau disadap. Walaupun TBM 5 adalah TM tetap perlu dilakukan pemupukan untuk meningkatkan hasil/produksi lateknya. Pupuk yang digunakan sama dengan TBM-1, TBM-2, TBM-3, dan TBM-4 yaitu ZA (dosisnya: 175 g/pohon), SP-36 (dosisnya: 75 g/pohon), MOP (dosisnya: 100 g/pohon), dan KIES (dosisnya: 40 g/pohon).

4.2 Pengendalian Gulma, Hama dan Penyakit

Gulma yang sering menyerang tanaman perkebunan karet adalah golongan teki, daun lebar, dan rumput (daun sempit). Pada areal perkebunan karet di AFD 3 ini secara keseluruhan gulma yang menyerang adalah golongan rumput (daun sempit), cara pengendalian yang dilakukan yaitu dengan di wiping herbisida. Sedangkan untuk gangguan hama dan penyakit yang sering menyerang adalah tikus (hama) dan penyakitnya yaitu jamur akar. Cara pengendaliannya dengan tanah di gali akarnya dikerok dan di beri obat baeleton. Sedangkan penyakit lain yang sering menyerang adalah untuk tanaman tua penyakit kas kering alas sadap pengendaliannya di olesi dengan obat oktinasi pada alur sadapnya dan pemberhentian penyadapan pada pohon tersebut. Apabila telah sembuh alur sadap kembali diberi GEA (Grop Etrel Air) agar memacu latex untuk berproduksi tinggi.






















TBM 1    TBM 2











V.    PANEN, PASCA PANEN, DAN PEMASARAN


Tanaman mulai disadap pada umur 5 tahun dengan criteria lilit batang 45 cm dan ketebalan kulit 7 mm . 1 blok sudah 60 % yang matang sadap dibuat tap A, B, C jadi sadapan 3 hari 1 kali. Mulai penyadapan pukul 05.30 selesai 0 7.30, kemudian latex di ambil jam 11.30, lalu di bawa ke STL (Stasion Latek) ditimbang hasilnya dan di catat, kemudian di muat ke mobil untuk di bawa ke pabrik. Setelah sampai di pabrik di catat kembali beratnya, kemudian di tuang ke bak cetakan digiling ke oven lalu di pack, di timbang baru dijual / dipasarkan. Hasil produksi latex tergantung kondisi iklim, apabila musim hujan produksi dapat tinggi namun bila musim kemarau produksi rendah.

Cara pemanenan lateks











   




VI.    TATA NIAGA


Di ekspor ke Luar negeri Pasaran dunia Amerika.






























LAMPIRAN








































    Mengukur jarak tanam                pembuatan ajir






Biji mukuna












   

        Pegayapan     pembuatan teras

PENGENALAN DAN PERHITUNGAN BULIR( BIJI) GULMA JAWAN SEBAGAI INANG ALTERNATIF PENTING WALANG SANGIT

PENGENALAN DAN PERHITUNGAN BULIR( BIJI) GULMA JAWAN SEBAGAI INANG ALTERNATIF PENTING WALANG SANGIT
( Laporan Hama Penting Tanaman)






Oleh
Tety Maryenti
1014121179









PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2012
I.  PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Tanaman padi merupakan tanaman pangan utama di Indonesia karena
lebih dari setengah penduduk Indonesia menjadikan beras sebagai makanan
pokok. Permintaan pangan terutama beras terus meningkat seiring dengan
peningkatan jumlah penduduk. Seiring dengan permintaan beras yang meningkat, peneliti juga memperhatikan hama dan penyakit, serta gulma yang dapat menurunkan produktivitas padi. pada praktikum kali ini, objek yang dihususkan adalah hama dan gulma. Hama bisa diartikan sebagai organisme yang dapat mengakibatkan penurunan hasil produksi pertanian. Jadi, secara umum jika ada organisme apapun itu, yang mengakibatkan penurunan hasil produksi bisa disebut sebagai hama. Namun pada dasarnya, Hama adalah binatang yang bersifat pengganggu terhadap petumbuhan dan perkembangan tanaman. Contoh-contoh hama misalnya: tikus, wereng, walang sangit, penggerek batang, dan keong mas.
Selain hama, yang menjadi perhatian serius adalah gulma. Tanaman yang tumbuh di sekitar areal tanam/persawahan mengganggu karena menjadi pesaing tanaman padi dalam memanfaatkan unsur hara, air, dan ruang. Selain berebut tiga hal tersebut, gulma sendiri menjadi tempat hidup dan bernaung hama dan penyakit tanaman (inang hama dan penyakit). Pada lahan yang terus menerus tergenang, gulma yang paling banyak dijumpai adalah gulma air (eceng gondok, semanggi, jajagoan, jujuluk), sedangkan pada lahan yang tidak tergenang, sebagian besar adalah gulma darat (alang-alang, gerintingan, babadotan, dll).

Gulma yang menjadi objek praktikum yaitu Gulma E. crus-galli. Gulma in merupakan gulma paling dominan pada areal
pertanaman padi).E. crus-galli termasuk tumbuhan C4 yang merupakan salah satu anggota yang paling penting dari genus Echinochloa. Jenis gulma ini memiliki penyebaran yang paling luas di seluruh Asia Selatan dan Asia Tenggara dan berperan sebagai gulma pada 36 jenis tanaman budidaya di 61 negara, sehingga keberadaanya sangat mengganggu baik dari segi inang hama dan penyakit maupun bersaing dalam ruang tumbuh.

Walang sangit (Leptocorisa oratorius Fabricius, (Hemiptera:Alydidae); syn. Leptocorisa acuta) adalah serangga yang menjadi hama penting pada tanaman budidaya, terutama padi. Hewan ini mudah dikenali dari bentuknya yang memanjang, berukuran sekitar 2 cm, berwarna coklat kelabu, dan memiliki "belalai" (proboscis) untuk menghisap cairan tumbuhan. Walang sangit adalah anggota ordo Hemiptera (bangsa kepik sejati). Walang sangit menghisap cairan tanaman dari tangkai bunga (paniculae) dan juga cairan buah padi yang masih pada tahap masak susu sehingga menyebabkan tanaman kekurangan hara dan menguning (klorosis), dan perlahan-lahan melemah.


B.    Tujuan Percobaan

Adapun tujuan dilakukannya percobaan ini adalah sebagai berikut:
1.    Agar mahasiswa dapat mengetahui inang yang dijadikan alternatif  oleh walang sangit
2.    Agar mahasiswa mampu mendeskripsikan gulma jawan beserta fungsinya
3.    Agar mahasiswa dapat mengaitkan antara jumlah biji gulma jawan dengan keberadaan walang sangit
4.    Agar mahasiswa mengetahui potensi perkembangan populasi jawan

II.  TINJAUAN PUSTAKA

Rumput E. crus-galli merupakan tumbuhan annual kelas Monocotyledon famili Poaceae/Graminae dan mempunyai nama lain Panicum crus-gall. Klasifikasi botani gulma E. crus-galli adalah sebagai berikut :
Kingdom     :         Plantae
Subkingdom     :         Tracheobionta
Divisi         :         Spermatophyta
Kelas         :         Monocotyledoneae
Subkelas     :         Commelinidae
Ordo         :         Cyperales
Famili         :         Poaceae
Genus         :         Echinochloa Beauv.
Spesies     :        Echinochloa crus-galli (L.)

Gulma E. crus-galli merupakan gulma paling dominan pada areal pertanaman padi.  E. crus-gallitermasuk tumbuhan C4 yang merupakan salah satu anggota yang paling penting dari genus Echinochloa. Jenis gulma ini memiliki penyebaran yang paling luas diseluruh Asia Selatan dan Asia Tenggara dan berperan sebagai gulma pada 36 jenis tanaman budidaya di 61 negara (Galinato et al., 1999).

E. crus-galli memiliki daun yang tegak atau rebah pada dasarnya. Daunnya memiliki ukuran panjang sampai 35 cm dan lebar 0.5-1.5 cm. Warna daun rumput ini hijau sampai hijau keabuan. Setiap daun memiliki pelepah yang tidak berambut dan memiliki panjang 9-13 cm. Pelepah daun umumnya berwarna kemerahan di bagian bawahnya. Helaian daun berukuran 5-65 cm x 6-22 mm, 
bersatu dengan pelepah, berbentuk linear dengan bagian dasar yang lebar dan melingkar dan bagian ujung yang meruncing. Permukaan daun rata, agak kasar dan menebal di bagian tepi Helaian daun memiliki beberapa rambut halus pada bagian dasarnya dan agak lebat pada permukaan daun (Fishel, 2000).

E. crus-galli memperbanyak diri secara generatif melalui biji. Jenis gulma
ini bereproduksi dengan cara penyerbukan sendiri atau penyerbukan silang. E.
crus-galli melakukan penyerbukan silang dengan menggunakan bantuan angin
(Itoh, 1991).E. crus-galli memiliki penyebaran yang sangat luas. Biji E. crus-galli dapat menyebar melalui saluran irigasi, hewan, burung, pengangkutan biji padi danmesin pertanian atau peralatan pertanian lainnya (Itoh, 1991).

Kelembaban optimum untuk perkecambahan benih E. crus-galli tergantung
dari karakteristik tanah, tetapi umumnya pada 70-90% kapasitas lapang. Benih E.
crus-galli yang berada dekat dengan permukaan tanah akan berkecambah baik
pada hari yang panas (Galinato et al., 1999).

Lemma dari floret yang pertama memiliki permukaan yang datar atau sedikit cembung atau tumpul. Glume bagian bawah memiliki panjang sekitar 1.5-2.5 mm, berbentuk ovate, memendek dan memiliki ujung yang memendek secara bertahap. Glume bagian atas memiliki panjang yang sama dengan spikelet, berbentuk ovate-oblong, runcing, memiliki rambut yang tebal dan kaku sepanjang 0.5-3 mm serta berambut pendek. Produksi benih bervariasi dari 2 000 – 40 000 benih per tanaman pada daerah bergulma. Hal tersebut menunjukkan bahwa E. crus-galli mampu menghasilkan lebih dari 1 000 kg benih/ha (Galinato et al., 1999).

III.  METODOLOGI PERCOBAAN


A.    Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah bulir gulma jawan yang masih muda dan alat tulis.

B.    Prosedur Percobaan

Adapun langkah-langkah yang dilakukan pada percobaan ini adalah sebagai berikut:
1.    Dihitung jumlah bulir jawan setiap malai
2.    Diprediksi jumlah bulir yang sudah rontok dan cara melihat bekas tangkai bulir yang ada tanpa bulir
3.    Dijumlahkan hasil perhitungan A dan B
4.    Dimasukkan data pada tabel
IV.  HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


A.    Hasil Pengamatan
Ulangan 1
Anak malai    Jumlah bulir    Prediksi jumlah bulir yang rontok    Jumlah kolom 2 dan 3    Malai muda/ tua
1    24    11    35    Muda
2    36    8    44    Muda
3    34    6    40    Muda
4    16    9    25    Muda
5    23    5    28    Muda
6    29    3    32    Muda
7    13    9    22    Muda
8    26    5    31    Muda
9    22    3    25    Muda
10    17    10    27    Muda
11    14    2    16    Muda
12    12    2    14    Muda
13    17    2    19    Muda
14    14    0    14    Muda
15    13    0    13    Muda
16    11    1    12    Muda
17    16    1    17    Muda
18    11    2    13    Muda
19    8    1    9    Muda
20    7    2    9    Muda
21    7    2    9    Muda
22    6    0    6    Muda
23    4    1    5    Muda
24    3    0    3    Muda
25    3    1    4    Muda
26    4    1    5    Muda
27    5    2    7    Muda

Ulangan 2

Anak malai    Jumlah bulir    Prediksi jumlah bulir yang rontok    Jumlah kolom 2 dan 3    Malai muda/ tua
1    40    6    46    Muda
2    43    2    45    Muda
3    33    2    35    Muda
4    30    3    33    Muda
5    27    3    30    Muda
6    25    4    29    Muda
7    24    2    26    Muda
8    16    1    17    Muda
9    19    0    19    Muda
10    20    0    20    Muda
11    18    0    18    Muda
12    3    1    4    Muda


A.    Pembahasan

Morfologi E. crus-galli
Rumput E. crus-galli sangat mirip dengan padi bila masih muda (Kasasian,
1971). E. crus-galli termasuk tumbuhan tahunan yang memiliki perawakan tegak,
berberías. Jenis rumput ini memiliki tinggi sekitar 20-150 cm (Soerjani et al.,
1987). Galinato et al. (1999) menambahkan bahwa tinggi E. crus-galli bisa
mencapai 200 cm. Gambar 1 menunjukkan bagian-bagian gulma E. Crus-galli.

Daun
Daun E. crus-galli pada saat masih muda sangat mirip dengan daun padi.
Daerah pangkal daun dapat digunakan untuk membedakan daun E. crus-galli dan
daun padi. Pangkal daun E. crus-galli tidak memiliki ligula dan aurikel,
sedangkan pangkal daun padi memiliki ligula yang bermembran dan aurikel yang
berbulu  E. crus-galli memiliki daun yang tegak atau rebah pada dasarnya.
Daunnya memiliki ukuran panjang sampai 35 cm dan lebar 0.5-1.5 cm. Warna daun rumput ini hijau sampai hijau keabuan.

Setiap daun memiliki pelepah yang tidakberambut dan memiliki panjang 9-13 cm.Pelepah daunumumnya berwarna kemerahan di bagian bawahnya. Helaian daun berukuran 5-65 cm x 6-22 mm, bersatu dengan pelepah, berbentuk linear dengan bagian dasaryang lebar dan melingkar dan bagian ujung yang meruncing. Permukaan daun rata, agak kasar dan menebal di bagian tepi. Helaian daun memiliki beberapa rambut halus pada bagian dasarnya dan agak lebat pada permukaan daun

Batang
Batang E. crus-galli kuat, tidak berambut dan berbentuk silindris dengan
intisari yang menyerupai spons putih di bagian dalamnya. Batang E. crus-galli umumnya bercabang di dekat pangkal batang. Di lahan sawah, anakan pertama dari E. crus-galli muncul 10 hari setelah perkecambahan, dan biasanya sekitar 15 anakan yang terbentuk.

Akar
E. crus-galli memiliki jenis akar yang berserat dan tebal. Akar E. crusgalli
dihasilkan pada setiap ruasnya

Bunga
Pembungaan berupa panikel apikal atau malai yang berada di ujung dengan
5-40 bunga majemuk bulir yang mempunyai tipe raceme, dengan cabang-cabang

Biji
Lemma dari floret yang pertama memiliki permukaan yang datar atau
sedikit cembung atau tumpul. Glume bagian bawah memiliki panjang sekitar 1.5-
2.5 mm, berbentuk ovate, memendek dan memiliki ujung yang memendek secara
bertahap. Glume bagian atas memiliki panjang yang sama dengan spikelet,
berbentuk ovate-oblong, runcing, memiliki rambut yang tebal dan kaku sepanjang
0.5-3 mm serta berambut pendek .Produksi benih bervariasi dari 2 000 – 40 000 benih per tanaman padadaerah bergulma. Hal tersebut menunjukkan bahwa E. crus-galli mampu menghasilkan lebih dari 1 000 kg benih/ha

Biologi Echinochloa crus-galli
Rumput E. crus-galli merupakan tumbuhan annual kelas Monocotyledon
famili Poaceae/Graminae dan mempunyai nama lain Panicum crus-galli . Klasifikasi botani gulma E. crus-galli adalah sebagai berikut :
Kingdom     : Plantae
Subkingdom     : Tracheobionta
Divisi         : Spermatophyta
Kelas         : Monocotyledoneae
Subkelas     : Commelinidae
Ordo         : Cyperales
Famili         : Poaceae
Genus         : Echinochloa Beauv.
Spesies     : Echinochloa crus-galli (L.) Beauv

E. crus-galli termasuk tumbuhan C4 yang merupakan salah satu anggota
yang paling penting dari genus Echinochloa. Jenis gulma ini memililki
penyebaran yang paling luas di seluruh Asia Selatan dan Asia Tenggara dan
berperan sebagai gulma pada 36 jenis tanaman budidaya di 61 negara (Jones,
1985; Galinato et al., 1999).

Fisiologi Gulma Jawan
E. crus-galli tumbuh pada daerah dengan ketinggian yang rendah sampai
sedang. Gulma ini tumbuh baik pada tempat dengan penyinaran penuh sepanjang
tepi perairan. E. crus-galli membutuhkan waktu 42-64 hari untuk melengkapi siklus hidupnya. Pembungaan dipengaruhi oleh panjang hari dimana pada hari pendek (8-13jam) pembungaan lebih cepat terjadi. E. crus-galli yang tumbuh pada daerah dengan penyinaran penuh memiliki bobot kering empat kali lebih besar serta jumlah malai dan anakan dua kali lebihbanyak daripada E. crus-galli yang tumbuh pada daerah dengan naungan 50%.

Pertumbuhan E. crus-galli sangat baik pada jenis tanah berpasir dan
berlempung terutama apabila kandungan nitrogennya menambahkan bahwa gulma ini dapat tumbuhpada tanah yang lembab sampai basah, dan mampu terus tumbuh walaupun hanyasebagian dari benih yang terendam. Perkecambahan 30% lebih baik di tanah padatdaripada di tanah yang kurang padat. E. crus-galli mampu tumbuh dengan baik pada tanah yang lebih kering, tetapi memiliki pertumbuhan yang lebih kecil dan menghasilkan jumlah malai, anakan dan jumlah biji yang lebih sedikit dibandingkan pada tanah berair.

Pertumbuhan E. crus-galli tidak dibatasi oleh pH tanah, tetapi E. crus-galli
akan tumbuh lebih baik pada tanah dengan pH netral. Suhu lingkungan optimum untuk perkecambahan benih adalah 32-37°C. Tingkat perkecambahan akan menurun drastis pada suhu lingkungan di bawah 10°C atau di atas 40°C. Benih E. crus-galli tidak dapat berkecambah pada kedalaman air lebih dari 12. Benih yang terendam pada kedalaman lebih dari 15 cm tidak dapat berkecambah. Kelembaban optimum untuk perkecambahan benih E. crus-galli tergantung dari karakteristik tanah, tetapi umumnya pada 70-90% kapasitas lapang. Benih E.crus-galli yang berada dekat dengan permukaan tanah akan berkecambah baik pada hari yang panas

Keuntungan dan kerugian gulma
Keuntungan dari gulma ini yaitu pada saat musim kemarau, gulma dapat menyimpan air sehingga tanaman padi tidak mengalami stress air jkarena dapat mengambil air dari gulma ini sehingga dapat mengurangi pemeliharaan contonhnya pengairan tidak dilakukan setiap hari, sehingga dapat menghemat air di musim kemarau.
Kerugian yang ditimbulkan gulma ini yaitu dapat sebagai inang hama dan penyakit. Hama yang menggunakan gulma ini yaitu walang sangit, sebelum padi masuk ke fase generatif pembuahan, walang sangit memakan built gulma ini sehingga walang sangit dapat bertahan hidup sampai pada saatnya padi mengeluarkan bulir yang masak susu, walang sangit menghisap bulir jawan ini. Semakin banyak bulir dan malai, maka semakin banyak pula populasi walang sangit itu sendiri, yang bisa membahayakan tanaman utama yaitu padi karena dapat menyebabkan bulir padi hampa atau berisi setengah, mudah patah, dan tidak bernas karena dihisap oleh walang sangit.

Pengendalian
Pengendalian yang dilakukan dapat berupa musuh alami, contohnya burung. Burung dapat memakan bulir gulma ini sehingga produksi bulir dapat menurun, selain itu dapat menggunakan musuh alami yaitu kutu putih Ferrisia virgata Cockerell. Nimfa dan kutu yang dewasa menghisap cairan pada bagian tanaman yang muda, serta memproduksi embun madu yang disukai oleh semut, sehingga produksi bulir juga dapat berkurang, selain itu dapat menggunakan herbisida sistemik, sehingga lambat laungulma tersebut mati, penggunaan herbisida kontak sebaiknya jangan karena menghindari kontaminasi herbisida ke tanaman padi.

Pembahasan data
Jumlah malai jawan menunjukkan indikator keberhasilan suatu gulma dalam mendominasi lahan di sekitar tanaman budidaya. Apabila jumlah malai banyak, dengan anakan banyak seperti pada ulangan pertama anak malai mencapai 27 tangkai, hal ini menunjukkan bahwa gulma jawan tersebut telah berhasil merebut unsur hara, sehingga pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan dengan tanaman padi. Dan keberadaan walang sangit pada jawan tersebut akan semakin banyak, karena tanaman padi sebagai inang utamanya belum dapat menghasilkan bulir. Dan sebaliknya apabila jumlah malai jawan sedikit, dan jumlah anakan malai sedikit seperti pada ulangan 2 yaitu 12 tangkai, maka tanaman padi berhasil mendominasi lahan, dan keberadaan walang sangit pada gulma jawan tersebut sedikit, karena walang sangit berada pada tanaman padi sebagai inang utamanya.

Hubungan jawan dengan walang sangit
Jawan merupakan gulma yang tumbuh di sekitar pertanaman padi sedangkan  walang sangit merupakan hama pada tanaman padi. Keduanya sangat merugikan bagi tanaman dan petani. Keduanya sama-sama dapat menurunkan produksi padi. Hanya saja berbeda cara menyerangnya. Jawan menyerang tanaman padi dengan cara tumbuh di sekitar pertanaman padi dan merebut unsur hara yang diberikan sehingga terjadi kompetisi antara jawan dan tanaman padi. Sedangkan walang sangit menyerang tanaman padi pada bagian bulir padi dan menghisap cairan yang berada pada bulir padi. Namun, apabila jawan mendominasi terlebih dahulu sebelum padi menumbuhkan bulir, maka walang sangit tidak akan menyerang padi, melainkan akan menjadikan jawan sebagai tanaman inangnya sampai bulir padi tumbuh.




V.  KESIMPULAN


Adapun kesimpulan yang diperoleh dari percobaan ini adalah sebagai berikut:

1.    Semakin banyak jumlah malai gulma jawan, maka semakin sedikit jumlah bulir padi yang dihasilkan
2.    Semakin sedikit jumlah bulir padi yang dihasilkan, maka keberadaan walang sangit pada tanaman padi semakin sedikit
3.    Jika jumlah malai gulma jawan lebih banyak menghasilkan bulir, maka keberadaan walang sangit pada gulma jawan tersebut akan semakin banyak. Jika sedikit jumlah malai jawan, maka populasi walang sangit menurun
4.    Jumlah malai pada gulma jawan merupakan indikator keberhasilan gulma jawan dalam mendominasi lahan baik berjumlah sedikit maupun banyak.











DAFTAR PUSTAKA


Fishel. 2000. Penanggulangan Gulma Secara Terpadu. PT Bina Aksara. Jakarta.

Galinato et al. 1999. Morfologi Gulma Jawan dan Syarat Tumbuh. Penebar Swadaya: Jakarta.

Itoh. 1991. Kerusakan oleh Gulma pada Tanaman, Kerugian Hasil
Disebabkab oleh Persaingan Gulma dalam Penanggulangan Gulma Secara Terpadu. PT Bina Aksara. Jakarta.

Moenandir, J. 1988. Persaingan Tanaman Budidaya dengan Gulma. Cv Rajawali.
Jakarta Utara.

Mudjiono, G., B. T. Rahardjo., T. Himawan. 1991. Hama-hama Penting Tanaman
Pangan. Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang.










LAMPIRAN
NB : JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR SAMA JOIN KE SITE INI YAAAA :D MAKASIHHH

SIMULASI PENGENDALIAN WALANG SANGIT MELALUI PENGENDALIAN GULM



SIMULASI PENGENDALIAN WALANG SANGIT MELALUI PENGENDALIAN GULMA
(Laporan Praktikum Hama Penting Tanaman)







Oleh

Tety Maryenti
1014121179

















PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2012


•    HASIL PENGAMATAN

Pengolahan tanah ke (X)    Jumlah kacang hijau yang terambil ( butir)    Sisa kacang hijau (Y)    Persen kacanghijau yang terambil
1    1203    3025    28,45 %
2    666    2359    15,75 %
3    390    1969    9,22 %
4    340    1629    8,04 %
5    268    1361    6,34 %
6    241    1120    5,70 %
Total    3108       


•    GRAFIK PERSAMAAN REGRESI



•    PERTANYAAN
1.    Berdasarkan persamaan regresi yang anda dapatkan berapa kalikah pengolahan tanah dilakukan agar benih yang tersisa mendekati nol?
2.    Apakah pengolahan tanah yang menyebabkan benih mendekati nol tersebut efisien?
3.    Menurutandasebaiknyapengolahantanahdilakukanberapakali ?mengapa

•    PEMBAHASAN

Melalui data dari praktikum yang telah dilakukan, didapatkan jumlah kacang hijau yang terambil dari ke-6 pengolahan tanah (X) adalah 241 butir, dan sisa kacang hijau yang terambil setelah dilakukan pengulangan sebanyak 6 kali adalah 1120 butir kacang hijau. Sehingga jumlah kacang hijau secara keseluruhan adalah 4228 butir. Sisa kacang hijau pada pengolahan pertama adalah 3025 butir, jumlah ini diperoleh dari jumlah kacang hijau secara keseluruhan dikurangi dengan jumlah kacang hijau yang terambil pada pengolahan ke-1. Jika diuraikan dengan angka sebagai berikut :
4228-1203= 3025 buti

Perhitungan untuk sisa kacang hijau pada pengolahan ke-2 adalah 2359 butir, jumlah ini diperoleh dari jumlah sisa kacang hijau pengolahan tanah ke-1 dikurangi dengan jumlah kacanghijau yang terambil padapengolahan ke-2.Perhitungan sisa kacang hijau ini dilakukan sampai pada pengolahan ke -6 dengan cara yang sama. Jika diuraikan dengan angka sebagai berikut :
3025-666=2359, dan selanjutnya perhitungan didapatkan dengan cara yang sama.

Cara yang dilakukan untuk menghitung persentase kacang hijau yang terambil dilakukan dengan membagikan jumlah kacang hijau yang terambil padapengolahan ke-1  dengan jumlah kacang hijau secara keseluruhan, yang kemudian dikalikan dengan 100%.
Pada pengolahan ke-1, jumlah kacang hijau yang terambil yaitu 1203 kemudian dibagi dengan jumlah kacang hijau secara keseluruhan yaitu 4228, kemudian dikalikan dengan 100%, maka diperoleh hasil  28,45 %.
Jika diuraikan dengan menggunakan angka sebagai berikut :
1203/4228*100% = 28.45%
Perhitungan persentase kacang hijau yang terambil ini dilakukan sampai pengolahan ke-6 dengan menggunakan cara yang sama yaitu jumlah kacang hijau yang terambil dibagi dengan jumlah kacang hijau secara keseluruhan dikalikan dengan 100%.

Setelah mendapatkan hasil keseluruhan dari perhitungan di atas langkah selanjutnya adalah menghitung regresi linear sederhana dengan cara mencari nilai a dan b nya. Sehingga diperoleh nilai a = 3196 ,dan nilai b= - 367,4.

Setelah diperoleh nilai a dan b, maka langkah selanjutny aadalah mencari nilai x dengan cara mengumpamakan nilai y = 0, maka akan diperoleh hasil hitungan sebagai berikut :
y = 0
y     = 3196 - 367,4 x             0  = 3196 - 367,4 x        
    367,4 x = 3196
            x    = 3196/ 367,4
            x    =  8,69
            x    = 8,69 dibulatkan menjadi 9

Berdasarkan regresi yang kami dapatkan, hal ini menunjukkan bahwa untuk membebaskan tanah darigulma jawan, pengolahan tanah perlu  dilakukan sebanyak  9 kali untuk mendekati nilai nol (0)

Pengolahan tanah yang menyebabkan benih gulma mendekati nol tidak efisien, karena pengolahan tanah dilakukan sebanyak 9 kali padahal kita tidak mengetahui secara pasti apakah benih gulma telah mencapai nol atau bahkan tidak ada sama sekali benih gulma yang terdapat pada tanah tersebut jika pengolahan tanah dilakukan sampai ke- 9 kali. Gulma memiliki banyak alat perkembangbiakan baik secara generatif maupun vegetatif sehingga keberadaannya sulit sekali untuk dimusnahkan atau diberantas hanya dapat dikendalikan, sehingga untuk mencapai  nilai nol tidak dapat mengandalkan pengolahan tanah di tempat itu saja, karena penyebaran gulma juga dapat dipengaruhi oleh hewan, angin, alat-alat pengolahan tanah dan melalui manusia.

Menurut pendapat saya, pengolahan tanah yang baik sebaiknya dilakukan 1-3 kali karena akan lebih menguntungkan dari segi ekonomi karena dapat menghemat biaya dan tenaga kerja. Selain itu dapat mengefisienkan penggunaan waktu. Meskipun pengolahan tanah yang dilakukan 1-3  tidak menjamin bahwa benih gulma tersebut mencapai nol namun benih gulma dapat terkendali dengan adanya pengolahan tanah karena bagian-bagian atau organ gulma dapat rusak karena pengolahan tanah yang dilakukan. Selain itu juga untuk apa dilakukan pengolahan tanah sampai berulang kali, jika tidak menjamin benih gulma tersebut mencapai nol. Jika tetap dilakukan pengolahan tanah yang begitu banyak dapat merugikan dan menghabiskan waktu.


PENGENALAN DAN ANALISIS USAHA PERKEBUNAN KAKAO (Theobroma cacao, L.) DI DAERAH BOGOREJO, DUSUN 5.KECAMATAN GEDUNG TATAAN. KABUPATEN PESAWARAN.




PENGENALAN DAN ANALISIS USAHA PERKEBUNAN
KAKAO (Theobroma cacao, L.) DI DAERAH BOGOREJO, DUSUN 5.KECAMATAN GEDUNG TATAAN. KABUPATEN PESAWARAN.
 (Laporan Produksi Tanaman Perkebunan)



Oleh

Kelompok 6

Nico Irvan Pradana        1014121139
Reza Prasetya            1014121152
Pri Angga Tri Atmaja        1014121145
Tety Maryenti            1014121179
Tri Purnama Sari        1014121187








   







PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2012



I.    PENDAHULUAN


1.1 Jenis Perkebunan

Jenis perkebunan pada survei kali ini adalah jenis perkebunan rakyat dengan luas areal mencapai 25 Ha. Perkebunan rakyat (tidak berbadan hukum). Perkebunan rakyat adalah perkebunan yang diselenggarakan atau dikelola oleh rakyat/pekebun yang dikelompokkan dalam usaha kecil tanaman perkebunan rakyat dan usaha rumah tangga perkebunan rakyat.

1.2 Lokasi perkebunan

Lokasi dari perkebunan rakyat ini dengan komoditas kakao terletak di daerah Bogorejo, dusun 5. Kecamatan Gedung Tataan. Kabupaten Pesawaran. Jarak yang ditempuh dari Universitas Lampung untuk ke daerah tersebut kira-kira 20-25 km.

1.3 Sosial Ekonomi

Sosial ekonomi masyarakat di sekitar perkebunan memiliki pendidikan rata-rata sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Mata pencaharian masyarakat disana yaitu petani dan menjadi buruh. Sedangkan pendapatan perkapita yang diperoleh masyarakat yaitu...........

1.4 Sejarah Kebun

Perkebunan ini merupakan perkebunan rakyat dengan kepala gapoktan (kelompok tani) bernama Pak Manto. Perkebunan ini berkembang menjadi perkebunan yang besar yaitu ketika masyarakat ingin bertanam, terdapat PTPN 7 yang menjual benih kakao (sumber benih). PTPN 7 ini mengonpensasi bagi masyarakat yang ingin menanam kakao, sehingga pak Manto tertarik dan menanam kakao karena tanaman kakao menjanjikan ekonomi masyarakat. Perkebunan ini ditanami oleh kakao yang telah berproduksi selama 15 tahun dan juga beberapa tanaman semusim apabila terdapat lahan yang kosong untuk menunggu tanaman yang belum menghasilkan (TBM). Terdapat juga beberapa tanaman lindung yang berasal dari kebun tersebut dari awal, seperti pohon petai, durian, dan pohon sengon.

































II.    LINGKUNGAN PERKEBUNAN

2.1 Tanah

Tinggi tempat dari permukaan laut yaitu sekitar 600 dpl, dengan tingkat kemiringan lahan kakao sekitar 300, dan tebal lapisan tanah sekitar......, tinggi permukaan air tanahnya yaitu.... dam jenis tanahnya yaitu tanah podsolik merah kuning, dengan pH 6.5.

2.2 Iklim

Curah hujan yang terdapat pada daerah ini  yaitu 2.264 mm-2.868 mm per tahun, dengan temperatur udara berkisar antar 260C sampai dengan 290C, dengan suhu rata-rata yaitu 280C. Kelembaban udara di daerah ini yaitu...........




















III.    TEKNIK BUDIDAYA


3.1 Komoditas

Jenis komoditas yang diusahakan yaitu kakao, varietas SCAICS 14/12. Tahun tanam varietas ini yaitu tahun 2006. Penanaman memotong matahari agar bagian tanaman terkena sinar matahari seluruhnya. Sistem tanam yang digunakan yaitu sistem tanam monokultur yaitu salah satu cara budidaya di lahan pertaniandengan menanam satu jenis tanaman pada satu areal. Monokultur menjadikan penggunaan lahan efisien karena memungkinkan perawatan dan pemanenan secara cepat dengan bantuan mesin pertanian dan menekan biaya tenaga kerja karena wajah lahan menjadi seragam. Besar jarak tanam yaitu 3x4 m.

3.2    Pembibitan

Jenis penanaman yang digunakan yaitu penanaman secara tidak langsung. Pembibitan dilakukan pada saat musim kemarau, karena apabila musim hujan banyak terkena penyakit. Pembibitan di daerah tersebut lancar tidak terjadi gangguan apapun. Selain itu pembibitan menggunakan benih hibrida. Syarat benih hibrida itu sendiri yaitu berasal dari tanaman yang berumur > 10 tahun, produksi tiap tahun meningkat, tidak ada serangan OPT. Syarat untuk pembibitan yaitu tanah polibag harus datar, dan tersedia unsur hara yang cukup, serta perbandingan tanah dengan pupuk kandang 3:1, dengan ukuran polibag yang berdiameter 10-20 cm. Sedangkan perlakuan benih untuk ditanam yaitu biji yang berlendir, yang diambil dari buah, dihilangkan lendirnya dengan cara menginjak-injak biji yang dicampur dengan abu yang berasal dari arang hitam, dan disimpan selama 2 hari kemudian akan tumbuh kecambah. Setalah berkecambah benih tersebut di tanam.



3.3 LCC

LCC atau legume cover crop tidak digalakkan di perkebunan ini mengenal biaya pembuatan sistem LCC yang mahal.

3.4 Bangunan konservasi

Terdapat rorak, parit drainase dan juga guludan. Fungsi dari rorak ini yaitu untuk menampung air hujan, dan unsur hara yang tercuci. Sehingga pemilik memberikan dekomposer kedalamnya contohnya EM4, sehingga bahan organik yang berada di dalamnya dapat terdekomposisi dan secara tidak langsung dapat memberi kesuburan pada tanah. Pembuatan rorak yaitu 1m/2m untuk mewakili 6 batang pohon atau minimal untuk 4 batang pohon. Parit drainase berfungsi untuk mengeluarkan air sehingga lahan tidak tergenang. Guludan berfungsi untuk memperkokoh perakaran tanaman kakao. Teras tidak terdapat di perkebunan ini karena kemiringan lahan tidak terlalu curam dan mulsa yang digunakan hanya mulsa organik sisa dari reruntuhan daun kakao yang berserakan.

3.5 Pohon Pelindung

Terdapat pohon pelindung di perkebunan kakao ini, dengan jenis yang bervariasi misalnya pohon kelapa, durian, dan petai, serta pohon sengon. Tahun penanaman yaitu ketika kebun tersebut dibuka, tanaman tersebut sudah ada. Perbandingan pohon pelindung dengan tanaman utama yaitu 30% : 70%. Dengan jarak tanam pohon pelindung yaitu 9x9 m dan pohon utama yaitu kakao 3x4 m.

3.5 Tanaman sela
Tidak terdapat tanaman sela pada perkebunan kakao di Bogorejo










IV.    PEMELIHARAAN TANAMAN

4.1 Pemupukan

Pemupukan yang digunakan pada perkebunan yaitu pemupukan organik dan anorganik. Pupuk organik yang digunakan contohnya pupuk kandang dan pupuk daunsedangkan pupuk anorganik yaitu pupun Urea, TSP, dan KCL. Frekuensi pemupukan yaitu 1 tahun 3 kali pemupukan, pada awal musim penghujan, tengah, dan akhir. Cara pemupukan yaitu dengan digali, ada yang memberi pupuk dengan mekanisme letter U, L, dan keliling.

4.2 Irigasi

Air didapatkan dari rorak yang berisi air. Apabila musim kemarau pohon kakao disiram pada sore hari melalui rorak atau kubangan dan dapat juga melalui tadah hujan.

4.3 Pengendalian gulma

Gulma yang menyerang perkebunan ini yaitu alang-alang dan wedusan. Bandotan atau wedusan dengan nama latin Ageratum conyzoides L. merupakan tumbuhan liar tetapi lebih dikenal sebagai tanaman penganggu (gulma). Umumnya tanaman ini tumbuh liar bersama alang-alang, dapat ditemukan di pekarangan rumah, tepi jalan atau selokan, bahkan di kebun atau di ladang. Sedangkan nama ilmiah alang alang adalah Imperata cylindrica. Alang-alang dapat berbiak dengan cepat, dengan benih-benihnya yang tersebar cepat bersama angin, atau melalui rimpangnya yang lekas menembus tanah yang gembur. Rumput ini senang dengan tanah-tanah yang cukup subur, banyak disinari matahari sampai agak teduh, dengan kondisi lembap atau kering. Pengendalian gulma pada perkebunan ini masih manual, tidak menggunakan bahan kimia contohnya herbisida, sehingga pengendaliannya membutuhkan banyak orang dan memperkerjakan masyarakat daerah ini.


4.4 Pengendalian PHT

Hama yang menyerang tanaman kakao pada perkebunan ini sangat banyak, akan tetapi hama yang paling penting yang dapat menurunkan hasil yaitu hama
1.    Helopeltis antonii (pengisap kulit buah kakao)
2.    Genapo morpha PBK (penggerek batang kakao)
3.    Zeuzera coffeae Nietn (penggerek batang dan cabang)
Gejala serangan buah muda yang terserang mongering lalu rontok, tetapi jika tumbuh terus, permukaan kulit buah retak dan terjadi perubahan bentuk. Serangan pada buah tua, tampak penuh bercak-bercak cekung berwarna coklat kehitaman, kulitnya mengeras dan retak. Serangan pada pucuk layu dan mati, ranting mongering dan merangas. Kepik Helopeltis sp, termasuk hama penting yang menyerang buah kakao dan pucuk/ranting muda. Serangan pada buah tua tidak terlalu merugikan, tetapi sebaliknya pada buah muda. Selain kakao, hama ini juga memakan banyak tananaman lain, diantaranya: teh, jambu biji, jambu mente, lamtoro, apokat, mangga, dadap, ubi jalar, dll.
Gejala serangan Zeuzera coffeae Nietn (penggerek batang dan cabang) yaitu larvanya meggerek bagian tanaman sehingga layu, kering, dan mati. Pengendalian yang dilakukan dalam mengendalikan hama yaitu dengan kultur teknis, dan orang-orang yang ahli yang berasal dari SLPTH (sekolah lapang pengendalian hama terpadu) melakukan pengendalian kimia menggunakan nurbisan (nordon bheta sunfik fivanon) yang merupakan paket gabungan fungisida, insektisida.Tanaman yang telah terserang berat tidak perlu dilakukan eradikasi tetapi dapat dipotong kemudian tumbuh dan melakukan penyambungan kembali.

4.5 Pemangkasan

Pemangkasan pada tanaman kakao daerah ini sama dengan teknis budidaya pada umumnya yaitu jangan terlalu banyak daun dan ranting. Pemangkasan dibagi menjadi 4 yaitu :
1.    Pemangkasan bentuk 8 bulan sampai 1 tahun, jurjet (percabangan) dipelihara 3 cabang yang paling baik sehingga terlihat seimbang dan terkena sinar matahari.
2.    Pemangkasan pemeliharaan yaitu cabang yang tumpah tindih dan menumpuk dengan 10 cm jaraknya dipangkas. Cabang yang membalik ke arah titik tumbuh atau ke arah batang juga dipangkas. Cabang cacing yang panjangnya dapat mencapai 5 m juga dipangkas, serta cabang yang mati juga dipangkas.
3.    Pewiwilan, merupakan pemangkasan cabang yang hanya tumbuh saja tanpa mengahasilkan buah. Cabang ini harus terus dipotong bila tumbuh, dan pada musim hujan cabang ini tumbuh dengan bunga.
4.    Pemangkasan produksi (pemangkasan setelah panen). Pemangkasan ini dilakukan pada bulan 1-3, dan perhatikan jangan memangkas ketika pucuk masih muda (merah) karena N akan ditranslokasikan ke arah bunga dan bunga dapat mengalami kerontokan. Pada bulan 4, 5, dan ke 6 ketika buah banyak, pangkaslah cabang yang kira-kira tidak berguna dan sisakan 2 jurjet (percabangan) apabila tidak tumbuh daun.

4.6 Penyambungan

Terdapat beberapa metode perkembangbiakan secara vegetatif pada perkebunan ini. Pihak perkebunan lebih sering menggunakan sistem perkembangbiakan secara vegetatif dibandingkan generatif karena pada perkembangbiakan vegetatif sifat induk diturunkan kepa anaknya secara keseluruhan sehingga baik dari produksinya, ketahanan terhadap OPT, dan kualitas rasa sama. Akan tetapi apabila buah kakao sudah tidak baik produksinya biasanya dalam kurun waktu 15 tahun. Maka, tanaman kakao akan diganti dan dilakukan cara perkembangbiakan generatif yaitu dengan benih hibrida, agar mendapatkan hasil yang kualitas dan kuantitasnya baik.
Jenis-jenis penyambungan:
1.    Sambung pucuk
Syarat untuk melakukan sambung pucuk yaitu memilih enterest yang baik, dan yang segar. Kemudian enterest disambung dengan cabang yang baik dan diikat dengan plastik dari bawah, sedangkan bagian atas ditutup dengan plastik untuk menjaga kelembabannya. Cabang untuk penyambungan dengan enterest haruslah cabang yang baik. Tunas akan tumbuh selama 20 hari setelah 10-15 cm tumbuh baru kemudian tali pengikat dibuka. Setelah menjadi batang yang produktif, batang lainnya yang tidak produktif lagi kemudian dipangkas.
2.    Sambung samping
Memilih enterest yang baik, kemudian dipotong dan dirontokkan daunnya. Arah potongan enterest meruncing kebawah dan bagian atasmya meruncing juga untuk dilakukan penempelan di samping. Setelah itu melakukan pemilihan batang, batang dikelotok kemudian ditempelkan dengan enterest diikat dengan tali dan jangan sampai goyang, selanjutnya ditutup plastik jangan sampai air masuk. Setelah 20 hari maka tunas akan tumbuh. Penyambungan dilakukan dengan menggunakan pisau khusus setekan.































V.    PANEN, PASCA PANEN, DAN PEMASARAN


5.1 Panen

Pemanenan dilakukan pada saat buah yang bewarna kuning dan semu coklat. Cara panen yang dilakukan yaitu dengan memotong buah dengan menggunakan pisau khusus. Dilakukan selama 8 hari sekali ( 2 hari memetik, 1 hari pecah, 3 hari penjemuran, dan 2 hari pemetikan kembali)

5.2 Pasca panen

Penyortiran dilakukan untuk mendapatkan kakao yang berkualitas baik, sedang, dan buruk. Umunya untuk PT kadar air nya harus 7 %, berat biji maksimal 1200. Untuk tengkulak yaitu standar, tidak terlalu banyak persyaratan.

5.3 Pemasaran

Pemasaran tidak ditawarkan secara langsung, tengkulak biasanya mengetahui waktu panen, sehingga setelah pemanenan para pedagang ataupun tengkulak langsung berada di perkebunan. Keuntungan yang diperoleh untuk 1 kali panen untuk lahan 1 ha yaitu 15 juta. 1 bulan dilakukan 2 kali pemanenan sehingga mendapat keuntungan 30 juta dengan produksi kakao 1 ha sebanyak 2.5 ton/ tahun.






















LAMPIRAN


















FOTO-FOTO KEGIATAN

NARASUMBER












TEKNIK SAMBUNG PUCUK


      
   


PUPUK



RORAK


KELOMPOK 6 DAN KEADAAN KEBUN















Template by:

Free Blog Templates