Senin, 03 Desember 2012

UJI KECEPATAN PERKECAMBAHAN BENIH




UJI KECEPATAN PERKECAMBAHAN BENIH
 (Laporan Praktikum Teknologi Benih)





Oleh

Kelompok 7
Tety Maryenti
1014121179









   






LABORATORIUM BENIH
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2011




I.    PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Perkecambahan merupakan proses metobolisme biji hingga dapat menghasilkan pertumbuhan dari komponen kecambah (Plumula dan Radikula). Definisi perkecambahan adalah jika sudah dapat dilihat atribut perkecambahannya, yaitu plumula dan rdikula dan keduanya tumbuh normal dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan ketentuan ISTA.

Setiap biji yang dikecambahkan ataupun yang diujikan tidak selalu prosentase pertumbuhan kecambahnya sama, hal ini dipengaruhi  bebagai macam faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan perkecambahan. Kecepatan berkecambah benih adalah kecepatan benih untuk berkecambah normal. Kecepatan perkecambahan (KP) dapat dinyatakan dengan rumus:



 t         : jumlah hari atau jumlah etmal sejak penanaman benih hingga hari
        pengamatan ke t (t = 1, 2, …, n), dan satu etmal adalah jumlah
  waktu 24 jam.
KN        : persen kecambah normal dari satu hari ke hari berikutnya.

Benih yang memiliki vigor yang tinggi akan lebih cepat berkecambah, karena memiliki cadangan makanan yang tinggi, sehingga dapat membantu untuk berkecambah lebih cepat di lingkungan yang optimum maupun yang suboptimum.
Uji kecepatan berkecambah benih memberikan hasil berupa gambaran bahwa suatu lot benih mampu berkecambah dengan cepat dan tumbuh menjadi tanaman normal pada lapang yang serba memadai.

Uji benih dalam kondisi lapang biasanya kurang memuaskan karena hasilnya tidak dapat diulang dengan konsisten. Oleh karena itu, pengujian di laboratorium dilaksanakan dengan mengendalikan faktor lingkungan agar mencapai perkecambahan yang teratur, cepat, lengkap bagi kebanyakan contoh benih. Selain itu kondisi yang terkendali telah distandarisasi untuk memungkinkan hasil pengujian yang dapat diulang sedekat mungkin kesamaannya.


B.    Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah
1.    Melatih cara melakukan uji kecepatan perkecambahan benih
2.    Melatih cara menghitung kecepatan perkecambahan benih.


























II. TINJAUAN PUSTAKA


Vigor benih dalam hitungan viabilitas absolut merupakan indikasi viabilitas benih yang menunjukkan benih kuat tumbuh di lapang dalam kondisi yang subotimum, dan tahan untuk disimpan dalam kondisi yang tidak ideal. Dengan demikian, vigor benih dipilah atas dua kualifikasi, yaitu Vigor Kekuatan Tumbuh (VKT) dan Vigor Daya Simpan (VDS). Kedua macam vigor itu dikaitkan pada analisis suatu lot benih, merupakan parameter viabilitas absolut yang tolak ukurnya dapat bermacam-macam.Tolak ukur Kecepatan tumbuh (KCT) mengindikasikan VKT karena benih yang cepat tumbuh lebih mampu menghadapi kondisi lapang yang suboptimum. KCT diukur dengan jumlah tambahan perkecambahan setiap hari atau etmal pada kurun waktu perkecambahan dalam kodisi optimum (Sadjad, 1993).

Sejak zaman pra-sejarah, manusia telah mengetahui, bahwa daya kecambah benih semakin menurun sejalan dengan bertambahnya umur benih. Hingga sekarangpun kebanyakan penelitian tentang perubahan fisiologis dan biokimiawi pada benih, biji berminyak, dan biji konsumsi mengikutsertakan rencana untuk menentukan persentase daya kecambahnya sebagai kriteria kemunduran atau perubahan (Sutopo, 1993).

Ciri-ciri benih bervigor adalah 1) tahan bila disimpan, 2) dapat berkecambah dengan cepat dan seragam, 3) bebas dari penyakit benih, 4) tahan terhadap gangguan mikroorganisme, 5) bibit tumbuh kuat baik pada tanah basah maupun kering, 6) bibit mampu memanfaatkan bahan makanan yang ada di dalam benih dengan maksimal, sehingga tumbbuh jaringan baru, 7) laju pertumbuhan bibit tinggi, dan 8) mampu berproduksi tinggi dalam waktu tertentu (Heydecker, 1972).

Faktor-faktor yang menyebabkan hilangnya dormansi pada benih sangat bervariasi tergantung pada jenis tanaman dan tentu saja tipe dormansinya, antara lain yaitu: karena temperatur yang sangat rendah di musim dingin, perubahan temperatur yang silih berganti, menipisnya kulit biji, hilangnya kemampuan untuk menghasilkan zat-zat penghambat perkecambahan, adanya kegiatan dari mikroorganisme (Kamil, 1986).

Vigor benih bukan merupakan pengukuran sifat tunggal, tetapi merupakan sejumlah sifat yang menggambarkan beberapa karakteristik yang berhubugan dengan penampilan suatu lot benih yang antara lain :
a)    Kecepatan dan keserempakan daya berkecambah dan pertumbuhan kecambah.
b)    Kemampuan munculnya titik tumbuh kecambah pada kondisi lingkungan yang tidak sesuai untuk pertumbuhan.
c)    Kemapuan benih untuk berkecambah setelah mengalami penyimpanan (Salomao, 2002)
Perkecambahan benih merupakan salah satu kriteria yang berkaitan dengan kualitas benih. Perkecambahan benih juga merupakan salah satu tanda dari benih yang telah mengalami proses penuaan. Pengertian dari berkecambah itu sendiri adalah jika dari benih tersebut telah muncul plumula dan radikula di embrio. Plumula dan radikula yang tumbuh diharapkan dapat menghasilkan kecambah yang normal, jika faktor lingkungan mendukung (Kuswanto, 1997).











III. METODE PERCOBAAN


A. Tempat dan Waktu

Praktikum ini dilaksanakan di laboratorium benih pada Hari Jumat, tanggal 14 Oktober 2011, pukul 08.00-10.00 WIB.


B. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah benih (kedelai dan jagung), kertas merang yang dilembabkan (p x l = 20 cm x 30 cm), plastik lembaran (p x l = 20 cm x 30 cm), air, kertas label, karet gelang, alat pengecambah benih (APB) tipe IPB 73-2B, ember, alat pengempa kertas.


C. Cara Kerja

Adapun cara kerja praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.    Kertas merang direndam dalam air hingga basah semua bagiannya, lalu dikempa pada pengempa kertas hingga tiris dan cukup lembab.
2.    Tiga lembar kertas merang diletakkan pada selembar plastik.
3.    Benih yang diuji ditanam di atas kertas merang tersebut (No. 2), 25 butir benih per lembaran dengan susunan yang teratur dan rapi.
4.    Dua lembar kertas merang lagi digunakan untuk menutup benih yang telah tersusun rapi (No. 3).
5.    Dari salah satu sisi lembar kertas, benih yang telah ditanam itu (No. 4) digulung perlahan-lahan sehingga membentuk gulungan yang rapi.
6.    Label tanda uji disiapkan dan ditulis padanya nama penguji, nama uji, nama benih, dan tanggal pengujian. Lalu selipkan di antara plastik dan kertas pada gulungan no. 5.
7.    Letakkan gulungan no. 6 itu pada rak dalam APB tipe IPB 73-2B dengan kedudukan berdiri (UKDdp = Uji kertas digulung didirikan dalam plastik).
8.    Pengamatan mulai dilakukan pada hari ke-2 sampai dengan hari ke-5.
9.    Pada setiap kali pengamatan semua kecambah yang telah dapat dinyatakan normal didiambil dan dihitung, sedangkan benih yang belum berkecambah atau kecambah yang belum dapat dinyatakan normal dibiarkan tetap dalam substrat dan dikembalikan dalam APB untuk diamati pada pengamatan hari berikutnya.
10.    Semua data pengamatan dicatat dalam tabel pengamatan dan dilakukan perhitungan KP dengan satuan % hari dan % etmal.




















IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN



A. Hasil Pengamatan

Jenis Benih    Ulangan    Hari Pengamatan ke (Benih Normal)
        1    2    3    4    5
Kedelai    1    0    0    5    2    4
    2    0    0    15    2    1
    3    0    0    12    1    4
Jagung    1    0    0    5    15    5
    2    0    0    5    12    6
    3    0    0    10    12    1


B. Pembahasan


Pada uji kecepatan perkecambahan benih, hal pertama yang dilakukan adalah menyiapkan tiga lembar kertas merang yang telah dilembabkan dan ditaruh di atas plastik. Kemudian benih ditata dan disusun rapi di atas kertas merang tersebut. Lalu ditutup dengan dua lembar kertas merang yang lembab juga. Setelah itu digulung, diberi label, dan dimasukkan ke dalam APB. Pada pengujian ini dilakukan tiga ulangan.

Pengamatan dalam Uji Kecepatan Perkecambahan Benih dilakukan lima kali, yaitu dimulai dari ke-2 sampai hari ke-6. Hal in bertujuan agar kondisi dalam kertas dapat dioptimasi, dihindarkan dari benih yang membusuk, atau dari yang tumbuh terlalu kuat. Benih yang sudah tumbuh normal sesuai ukuran yang sudah dibakukan diambil dan dihitung. Nilai kecepatan perkecambahan didapat dari persen kecambah normal dari satu hari ke hari berikutnya di bagi dengan jumlah hari atau jumlah etmal sejak penanaman benih hingga hari pengamatan ke t (t = 1, 2, 3, …, n).

Hasil pengamatan kecepatan perkecambahan pada benih kedelai pada ulangan 1 dari hari 1-5 adalah 0, 0, 6.67 , 2 , 3.2
Hasil pengamatan kecepatan perkecambahan pada benih kedelai pada ulangan 2 dari hari 1-5 adalah 0, 0, 20 , 2 , 0.8
Hasil pengamatan kecepatan perkecambahan pada benih kedelai pada ulangan 3 dari hari 1-5 adalah 0, 0, 16 , 1 , 3.2

Hasil pengamatan kecepatan perkecambahan pada benih jagung pada ulangan 1 dari hari 1-5 adalah 6.67 , 15 , 4
Hasil pengamatan kecepatan perkecambahan pada benih jagung pada ulangan 2 dari hari 1-5 adalah 6.67 , 12 , 4.8
Hasil pengamatan kecepatan perkecambahan pada benih jagung pada ulangan 3 dari hari 1-5 adalah 13.3 ,12 , 0.8

Benih adalah biji botanis yaitu biji hasil dari perkembangan bakal biji(ovul) di dalam bunga kemudian menghasilkan biji botanis yang disebut dengan benih. Pengertian benih dalam UU No. 12 tahun 1992 yaitu tanaman atau bagiannya yang digunakan untuk memperbanyak dan atau mengembangbiakkan tanaman.

Kecambah normal
1.   Kecambah yang memiliki perkembangan sistem perakaran yang baik terutama akar primer dan untuk tanaman yang secara normal menghasilkan akar seminimal maka akar ini tidak boleh kurang dari dua.
2.   Perkembangan hipokotil yang baik sempurna tanpa ada kerusakan pada jaringan -jaringannya.
3.  Pertumbuhan plumula yang sempurna dengan daun hijau dan tumbuh baik, didalam atau muncul darikoleoptil atau pertumbuhan epikotil yang sempurna dengan kuncup yang normal.
4.  Memiliki satu kotiledone untuk kecambah dari monokotil dan dua bagi dikotil.

Kecambah abnormal
1.  Kecambah yang rusak, tanpa kotiledon, embrio, yang pecah dan akar primer yang pendek.
2.  Kecambah yang bentuknya cacat, perkembangan lemah atau kurang seimbang dari bagain – bagian yang penting. Plumula yang terputar, hipokotil, epikotil, kotiledon yang mebengkak, akar yang pendek. Koleoptil yang pecah atau tidak mempunyai dau  : kecambah yang kerdil.
3.  Kecambah yang tidak membentuk chlophyl
4.  Kecambah yang lunak
5.  Untuk benih pohon – pohonan bila dari microphyl keluar daun dan bukanya akar.

Benih mati
Kriteria ini ditunjukkan untuk benih - benih yang busuk sebelum berkecambah atau tidak tumbuh setelah jangka waktu pengujian yang ditentukan, tetapi bukan dalam keadan dorman.

Vigor benih adalah kesehatan dan kekuatan alamiah benih yang pada pertanaman akan membuat perkecambahan cepat pada kondisi lapangan yang beragam luas.

Ciri-ciri benih bervigor adalah 1) tahan bila disimpan, 2) dapat berkecambah dengan cepat dan seragam, 3) bebas dari penyakit benih, 4) tahan terhadap gangguan mikroorganisme, 5) bibit tumbuh kuat baik pada tanah basah maupun kering, 6) bibit mampu memanfaatkan bahan makanan yang ada di dalam benih dengan maksimal, sehingga tumbbuh jaringan baru, 7) laju pertumbuhan bibit tinggi, dan 8) mampu berproduksi tinggi dalam waktu tertentu.

Vigor benih bukan merupakan pengukuran sifat tunggal, tetapi merupakan sejumlah sifat yang menggambarkan beberapa karakteristik yang berhubugan dengan penampilan suatu lot benih yang antara lain :
•    Kecepatan dan keserempakan daya berkecambah dan pertumbuhan kecambah.
•       Kemampuan munculnya titik tumbuh kecambah pada kondisi lingkungan yang tidak sesuai untuk pertumbuhan.
•    Kemapuan benih untuk berkecambah setelah mengalami penyimpanan.
   
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkecambahan benih yaitu:

1. Faktor dalam
a. Tingkat kemasakan benih
Benih yang dipanen sebelum tingkat kemasakan fisiologisnya tercapai tidak mempunyai viabilitas yang tinggi karena belum memiliki cadangan makanan yang cukup serta pembentukan embrio belum sempurna.

b. Ukuran benih
Benih yang berukuran besar dan berat mengandung cadangan makanan yang lebih banyak dibandingkan dengan yang kecil pada jenis yang sama. Cadangan makanan yang terkandung dalam jaringan penyimpan digunakan sebagai sumber energi bagi embrio pada saat perkecambahan.

c. Dormansi
dikatakan dormansi benih menunjukkan suatu keadaan dimana benih-benih sehat (viabel) namun gagal berkecambah ketika berada dalam kondisi yang secara normal baik untuk berkecambah, seperti kelembaban yang cukup, suhu dan cahaya yang sesuai.

d. Penghambat perkecambahan
Menurut Kuswanto (1996), penghambat perkecambahan benih dapat berupa kehadiran inhibitor baik dalam benih maupun di permukaan benih, adanya larutan dengan nilai osmotik yang tinggi serta bahan yang menghambat lintasan metabolik atau menghambat laju respirasi.

2. Faktor Luar
a.     Air
Perkembangan benih tidak akan dimulai bila air belum terserap masuk ke dalam benih hingga 80 sampai 90 persen (Darjadi,1972) dan umumnya dibutuhkan kadar air benih sekitar 30 sampai 55 persen (Kamil, 1979)

b.     Suhu
Suhu optimal adalah yang paling menguntungkan berlangsungnya perkecambahan benih dimana presentase perkembangan tertinggi dapat dicapai yaitu pada kisaran suhu antara 26.5 sd 35°C (Sutopo, 2002).

c.     Oksigen
Saat berlangsungnya perkecambahan, proses respirasi akan meningkat disertai dengan meningkatnya pengambilan oksigen dan pelepasan CO2, air dan energi panas. Terbatasnya oksigen yang dapat dipakai akan menghambat proses perkecambahan benih (Sutopo, 2002).

d.     Cahaya
Kebutuhan benih akan cahaya untuk perkecambahannya berfariasi tergantung pada jenis tanaman (Sutopo, 2002). Adapun besar pengaruh cahanya terhadap perkecambahan tergantung pada intensitas cahaya, kualitas cahaya, lamanya penyinaran (Kamil, 1979).

e. Medium
Medium yang baik untuk perkecambahan haruslah memiliki sifat fisik yang baik, gembur, mempunyai kemampuan menyerap air dan bebas dari organisme penyebab penyakit terutama cendawan (Sutopo, 2002).


Proses atau tahapan-tahapan perkecambahan benih yaitu
•    Imbibisi
•    Reaktivasi
•    Inisiasi Perkecambahan embrio
•    Retaknya kulit benih
•    Munculnya radikula
•    Munculnya plumula

Kecambah normal ketika pengamatan harus dibuang dikarenakan untuk memberikan ruang kepada benih lain untuk berkecambah, agar nutrisinya tidak lagi diserap oleh benih yang sudah berkecambah sehingga harus dibuang.
























V. KESIMPULAN


Adapun kesimpulan yang didapatkan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.    Uji kecepatan berkecambah benih memberikan hasil berupa gambaran bahwa suatu lot benih mampu berkecambah dengan cepat dan tumbuh menjadi tanaman normal pada lapang yang serba memadai.
2.    Dari pengamatan diketahui bahwa vigor mempunyai hubungan berbanding lurus dengan KP, dimana makin tinggi vigor benih makin tinggi pula nilai KP-nya.
3.    Metode perkecambahan yang digunakan adalah UKDdp (Uji kertas digulung didirikan dengan plastik).
4.    Penyusunan benih jagung (Zea mays) dan kedelai dengan arah atas-bawah dengan selang-seling pada kertas merang dilakukan agar kecambah yang tumbuh nantinya tidak tumpang tindih dan tumbuh normal.
5.    Variabel yang diamati dalam praktikum ini adalah kecambah normal, kecambah abnormal, dan kecambah mati.













DAFTAR PUSTAKA


Heydecker, W. 1972. In Viability of Seeds. E. H. Roberts ed., Syracuse University Press, USA.

Kamil, J. 1986. Teknologi Benih. Angkasa Raya. Bandung.

Kuswanto, Hendarto. 1997. Analisis Benih. Andi. Yogyakarta.

Sadjad, Sjamsoe’oed. 1993. Dari Benih kepada Benih. Jakarta. PT Gramedia.

Salomao, 2002. Teknologi Benih: Pengolahan Benih Dan Tuntunan Praktikum. Rineka Cipta. Jakarta.

Sutopo, Lita. 1993. Teknologi Benih. Jakarta. CV Rajawali Pers.

































LAMPIRAN


















PERHITUNGAN

•    HARI KETIGA
1.    Kedelai
    Ulangan 1
 KN    =  = 6.67

    Ulangan 2
 KN    =  = 20

    Ulangan 3
 KN    =  = 16
•    HARI KEEMPAT
1. Kedelai
    Ulangan
 KN    =  = 2

    Ulangan 2
 KN    =  = 2

    Ulangan 3
 KN    =  = 1
•    HARI KELIMA
1. Kedelai
    Ulangan
 KN    =  = 3.2

    Ulangan 2
 KN    =  = 0.8

    Ulangan 3
 KN    =  = 3.2

•    HARI KETIGA
2.    Jagung
    Ulangan 1
 KN    =  = 6.67


    Ulangan 2
 KN    =  = 6.67
    Ulangan 3
 KN    =  = 13.3
•    HARI KEEMPAT
2. Jagung
    Ulangan
 KN    =  = 15

    Ulangan 2
 KN    =  = 12

    Ulangan 3
 KN    =  = 12
•    HARI KELIMA
2. Jagung
    Ulangan
 KN    =  = 4




    Ulangan 2
 KN    =  = 4.8

    Ulangan 3
 KN    =  = 0.8


tolong komentar dan join site ini yaaa :D caranya mudah kok untuk joinnya :D lihat aja di pengikutnya :D thanksss



2 komentar:

Please leave your comment and join this site :D 감사합니다. no spam please :DD

Template by:

Free Blog Templates