Blogger templates

Get your own Glitter Graphics @ myspaceglitter.com

Minggu, 16 Desember 2012

TEKNIK PENGENDALIAN GULMA SECARA HAYATI





TEKNIK PENGENDALIAN GULMA SECARA HAYATI
 ( Laporan Praktikum Ilmu dan Teknik Pengendalian Gulma)




Oleh

Kelompok 3
Kelas C


Aldita Dwi Astuti        0814013085
Miandri Sabli Pratama    1014121133
Novri Dwi Damayanti        1014121142
Sucipto            1014121176
Tety Maryenti            1014121179








PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2012





I.      PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang

Kehadiran gulma dianggap merugikan karena mengganggu kepentingan dan aktivitas manusia/kegiatan pertanian dan pengendalian gulma merupakan usaha untuk meningkatkan daya saing tanaman dan melemahkan daya saing gulma.
Pengendalian hayati dalam arti luas mencakup setiap usaha pengendalian
organisme pengganggu dengan tindakan yang didasarkan ilmu hayat (biologi). Secara umum populasi organisme di alam berada dalam keadaan seimbang pada jenjang populasi tertentu. Hal ini disebabkan oleh faktor lingkungan dan juga faktor dalam populasi sendiri, yang mengendalikan populasi tersebut. Salah satu kelompok faktor lingkungan itu adalah musuh alami yang mencakup parasitoid, predator, dan patogen.

Pada dasarnya setiap organisme di alam mempunyai musuh alami.  Musuh alami tersebut dalam habitat alaminya berperan sebagai komponen untuk menekan pertumbuhan gulma sehingga terjadi keseimbangan ekologis.  Tujuan pengendalian Hayati bukan pemusnahan tetapi penekanan gulma agar secara ekonomi dan ekologi tidak merugikan.  Dengan demikian, efektifitas pengendalian secara hayati diharapkan dapat  berlanjut dalam waktu lama karena keseimbangan ekologis baru antara gulma dan musuh alaminya telah tercapai.

B.    Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat mengamati langsung organisme yang menjadi musuh alami dari gulma yang dikumpulkan dari lapang.



II.    TINJAUAN PUSTAKA


Musuh Alami adalah Suatu mahluk hidup (organisme > Predator, Parasitoid dan Patogen) yang dapat mengendalikan hama penyakit dan gulma (OPT) Musuh alami terdiri dari pemangsa/predator, parasitoid dan patogen. Pemangsa adalah binatang (serangga, laba-laba dan binatang lain) yang memakan binatang lain sehingga menyebabkan kematian. Kadang-kadang disebut “predator”. Predator berguna karena memakan hama tanaman. Semua laba-laba dan capung merupakan contoh pemangsa. Parasitoid adalah serangga yang hidup di dalam atau pada tubuh serangga lain, dan membunuhnya secara pelan-pelan. Parasitoid berguna karena membunuh serangga hama, sedangkan parasit tidak membunuh inangnya, hanya melemahkan.
Ada beberapa jenis tawon (tabuhan) kecil sebagai parasitoid serangga hama. Patogen adalah penyebab penyakit yang menyerang binatang atau makhluk lain. Patogen berguna karena mematikan banyak jenis serangga hama tanaman teh. Ada beberapa jenis patogen, antara lain jamur, bakteri dan virus.
Musuh alami sebaiknya dilestarikan karena mereka merupakan teman petani. Semua jenis musuh alami membantu petani mengendalikan hama dan penyakit. Karena itu, musuh alami jangan dibunuh atau dimusnahkan. Langkah pertama dalam hal melestarikan musuh alami adalah: jangan menggunakan pestisida kimia! Langkah kedua: menjaga berbagai jenis tanaman, terutama tanaman berbunga, di kebun atau sekitar kebun. Jika terdapat bermacam- macam tanaman di kebun, biasanya jumlah musuh alami yang berada di kebun juga lebih banyak. (Baca juga bagian mengenai bunga di halaman ‘Parasitoid’). Langkah ketiga: mengusahakan lingkungan yang sesuai untuk kehidupan musuh alami tersebut (konservasi) (Sukman Y. 2002 ).

Berdasarkan campur tangan yang terjadi maka dibedakan antara pengendalian alami dan pengendalian hayati. Perbedaan utama terletak pada ada atau tidaknya campur tangan manusia dalam ekosistem. Dalam pengendalian alami disamping musuh alami sebagai pengendali hayati masih ada iklim dan habitat sebagai faktor pengendali non hayati. Sedang pada pengendalian hayati ada campur tangan manusia yang mengelola gulma dengan memanipulasi musuh alaminya.
Pengendalian hayati merupakan metode yang paling layak dan sekaligus paling sulit dipraktekkan karena memerlukan derajat ketelitian tinggi dan serangkaian test dalam jangka waktu panjang (bertahun-tahun) sebelum suatu organ pengendali hayati dilepas untuk pengendalian suatu species gulma. Dasar pengendalian hayati adalah kenyataan bahwa di alam ada musuh-musuh alami yang mampu menekan beberapa species gulma ( Tora. 2012).

Ada beberapa syarat utama yang dibutuhkan agar suatu makhluk dapat digunakan sebagai pengendali alami :
1. Makhluk tersebut tidak merusak tanaman budidaya atau jenis tanaman pertanian lainnya, meskipun tanaman inangnya tidak ada.
2. Siklus hidupnya menyerupai tumbuhan inangnya, misalnya populasi makhluk ini akan meningkat jika populasi gulmanya juga meningkat.
3. Harus mampu mematikan gulma atau paling tidak mencegah gulma membentuk biji/berkembang biak.
4. Mampu berkembang biak dan menyebar ke daerah-daerah lain yang ditumbuhi inangnya.
5. Mempunyai adaptasi baik terhadap gulma inang dan lingkungan yang ditumbuhinya ( Dwi Hartoyo,SP. 2001 ).















III.    BAHAN DAN METODE


A.      Alat dan bahan

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini, antara lain pot, kain kasa, tali rapia dan alat tulis. Serta bahan yang digunakan dalam praktikum ini, antara lain gulma golongan rumput, teki, dan daun lebar

B.    Metode

Adapun prosedur kerja pengamatan langsung pengendalian gulma secara hayati, antara lain :
1.    Mengidentifikasi 3 jenis gulma dari golongan rumput, teki dan daun lebar
2.    Menanam ketiga jenis gulma tersebut dalam satu pot tanam.
3.    Memasukkan organisme musuh alami (Ulat atau Belalang)  pada gulma yang telah diidentifikasi.
4.    Menutup atau mengurung pot dengan kain kasa  lalu ikat dengan tali rapia agar organism musuh alami gulma tidak dapat keluar.
5.    Melakukan pengamatan gejala serta intensitas serangan musuh alami terhadap masing-masing jenis gulma.












IV.    HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


A.    Data pengamatan

Musuh alami belalang (kelompok 3)
Jenis gulma    Jumlah    Presentase kerusakan (%)
Hari ke-
        1    2    3    4    5    6    7
Cyperus kyllingia    3    0    0    1    3    4    5    5
Chloris barbata    2    0    3    5    8    11    13    15
Acalypha    2    0    1    3    6    8    10    10

Musuh alami ulat (kelompok 5)
No    Jenis gulma    Presentase kerusakan per hari (%)
        1    2    3    4    5    6    7
1    Gulma golongan  rumput    0    0    3    6    8    10    -
2    Gulma golongan teki     -    -    -    -    -    -    -
3    Gulma golongan daun lebar    -    -    4    7    10    12    -

B.    Pembahasan

Pengendalian hayati dibedakan dari pengendalian alami hanya dalam hal keterlibatan manusia dalam menangani agen pengendali yang terlibat. Dalam pengendalian hayati, agen hayati secara sengaja diintroduksi, dibiakkan secara masal, dan kemudian dilepaskan untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan. Sebaliknya, dalam pengendalian alami agen pengendali ada dengan sendirinya di alam.Pengendalian hayati pada gulma adalah suatu cara pengendalian dengan menggunakan musuh-musuh alami baik hama (insekta), penyakit (patogen), jamur dan sebagainya guna menekan pertumbuhan gulma. Dasar pengendalian hayati adalah kenyataan bahwa di alam ada musuh-musuh alami yang mampu menekan beberapa species gulma.Hal ini biasa ditujukan terhadap suatu species gulma asing yang telah menyebar secara luas di suatu daerah. Pemberantasan gulma secara total bukanlah tujuan pengendalian hayati karena dapat memusnahkan agen-agen hayati yang lain.

Pada praktikum ini digunakan musuh alami berupa 5 belalang yang berukuran kecil sampai sedang yang dimasukkan pada pot yang telah dikurung dengan kain kasa.  Belalang tersebut di dapatkan pada habitat gulma tersebut berada sebelum dipindahkan ke  pot. Berdasarkan data pengamatan yang telah dilakukan presentase kerusakan semakin hari semakin tinggi hal ini dapat diketahui dan dilihat dari gejala kerusakan yang semakin bertambah meluas. Gejala kerusakan yang terdapat pada gulma seperti daun dan  batang bergerigi, daun berlubang, dan batang yang patah  akibat dimakan belalang.

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan dari  ketiga golongan jenis gulma yang di tanam di pot tersebut presentase kerusakan  paling tinggi pada gulma golongan rumput (Chloris barbata).  Sedangkan presentase kerusakan paling rendah pada gulma golongan teki (Cyperus kyllingia). Belalang lebih menyukai memakan gulma golongan rumput dengan gejala kerusakan paling banyak ditemukan berupa batang yang patah dan bergerigi serta daun bergerigi dan seperti terpotong pada bagian ujungnya, sedangkan pada golongan gulma daun lebar gejala kerusakan terdapat pada daun yang berlubang dan pinggiran daun yang bergerigi, dan pada gulma golongan teki kerusakan terdapat pada bagian daunnya yang bergerigi. Selain itu kecenderungan musuh alami untuk lebih tertarik kepada jenis rumput dan daun lebar dibandingkan dengan golongan teki sehinngga secara umum daun lebar dan teki akan menunjukan gejala serangan lebih dominan dibandingkan dengan gulma golongan teki.




V.    KESIMPULAN


Adapun kesimpulan yang didapat dari praktikum ini antara lain :
1.    Pengendalian hayati pada gulma adalah suatu cara pengendalian dengan menggunakan musuh-musuh alami baik hama (insekta), penyakit (patogen), jamur.
2.    Dasar pengendalian hayati adalah kenyataan bahwa di alam ada musuh-musuh alami yang mampu menekan beberapa species gulma
3.    Gejala kerusakan yang terdapat pada gulma seperti daun dan  batang bergerigi, daun berlubang, dan batang yang patah
4.    Presentase kerusakan  paling tinggi pada gulma golongan rumput sedangkan presentase kerusakan paling rendah pada gulma golongan teki pada kedua musuh alami yaitu ulat dan belalang.



























DAFTAR PUSTAKA

Dwi Hartoyo,SP. 2001. http://www.htysite.com/hama%20musuh%20alami%
2001.htm. Diakses pada tanggal 07 Desember 2012. Pukul 17 : 00 WIB.
 Sukman Y. 2002. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. PT. RajaGrafindo Persada. Jakarta.
Tora. 2012. http://nandagokilz1.wordpress.com/2012/05/19/pengendalian-gulma-secara-hayati/. Diakses pada tanggal 07 Desember 2012. Pukul 18 : 30 WIB.

NB : JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR SAMA JOIN KE SITE INI YAAAA :D MAKASIHHH

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Please leave your comment and join this site :D 감사합니다. no spam please :DD

Template by:

Free Blog Templates