Minggu, 16 Desember 2012

PENGENALAN DAN PERHITUNGAN BULIR( BIJI) GULMA JAWAN SEBAGAI INANG ALTERNATIF PENTING WALANG SANGIT

PENGENALAN DAN PERHITUNGAN BULIR( BIJI) GULMA JAWAN SEBAGAI INANG ALTERNATIF PENTING WALANG SANGIT
( Laporan Hama Penting Tanaman)






Oleh
Tety Maryenti
1014121179









PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2012
I.  PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Tanaman padi merupakan tanaman pangan utama di Indonesia karena
lebih dari setengah penduduk Indonesia menjadikan beras sebagai makanan
pokok. Permintaan pangan terutama beras terus meningkat seiring dengan
peningkatan jumlah penduduk. Seiring dengan permintaan beras yang meningkat, peneliti juga memperhatikan hama dan penyakit, serta gulma yang dapat menurunkan produktivitas padi. pada praktikum kali ini, objek yang dihususkan adalah hama dan gulma. Hama bisa diartikan sebagai organisme yang dapat mengakibatkan penurunan hasil produksi pertanian. Jadi, secara umum jika ada organisme apapun itu, yang mengakibatkan penurunan hasil produksi bisa disebut sebagai hama. Namun pada dasarnya, Hama adalah binatang yang bersifat pengganggu terhadap petumbuhan dan perkembangan tanaman. Contoh-contoh hama misalnya: tikus, wereng, walang sangit, penggerek batang, dan keong mas.
Selain hama, yang menjadi perhatian serius adalah gulma. Tanaman yang tumbuh di sekitar areal tanam/persawahan mengganggu karena menjadi pesaing tanaman padi dalam memanfaatkan unsur hara, air, dan ruang. Selain berebut tiga hal tersebut, gulma sendiri menjadi tempat hidup dan bernaung hama dan penyakit tanaman (inang hama dan penyakit). Pada lahan yang terus menerus tergenang, gulma yang paling banyak dijumpai adalah gulma air (eceng gondok, semanggi, jajagoan, jujuluk), sedangkan pada lahan yang tidak tergenang, sebagian besar adalah gulma darat (alang-alang, gerintingan, babadotan, dll).

Gulma yang menjadi objek praktikum yaitu Gulma E. crus-galli. Gulma in merupakan gulma paling dominan pada areal
pertanaman padi).E. crus-galli termasuk tumbuhan C4 yang merupakan salah satu anggota yang paling penting dari genus Echinochloa. Jenis gulma ini memiliki penyebaran yang paling luas di seluruh Asia Selatan dan Asia Tenggara dan berperan sebagai gulma pada 36 jenis tanaman budidaya di 61 negara, sehingga keberadaanya sangat mengganggu baik dari segi inang hama dan penyakit maupun bersaing dalam ruang tumbuh.

Walang sangit (Leptocorisa oratorius Fabricius, (Hemiptera:Alydidae); syn. Leptocorisa acuta) adalah serangga yang menjadi hama penting pada tanaman budidaya, terutama padi. Hewan ini mudah dikenali dari bentuknya yang memanjang, berukuran sekitar 2 cm, berwarna coklat kelabu, dan memiliki "belalai" (proboscis) untuk menghisap cairan tumbuhan. Walang sangit adalah anggota ordo Hemiptera (bangsa kepik sejati). Walang sangit menghisap cairan tanaman dari tangkai bunga (paniculae) dan juga cairan buah padi yang masih pada tahap masak susu sehingga menyebabkan tanaman kekurangan hara dan menguning (klorosis), dan perlahan-lahan melemah.


B.    Tujuan Percobaan

Adapun tujuan dilakukannya percobaan ini adalah sebagai berikut:
1.    Agar mahasiswa dapat mengetahui inang yang dijadikan alternatif  oleh walang sangit
2.    Agar mahasiswa mampu mendeskripsikan gulma jawan beserta fungsinya
3.    Agar mahasiswa dapat mengaitkan antara jumlah biji gulma jawan dengan keberadaan walang sangit
4.    Agar mahasiswa mengetahui potensi perkembangan populasi jawan

II.  TINJAUAN PUSTAKA

Rumput E. crus-galli merupakan tumbuhan annual kelas Monocotyledon famili Poaceae/Graminae dan mempunyai nama lain Panicum crus-gall. Klasifikasi botani gulma E. crus-galli adalah sebagai berikut :
Kingdom     :         Plantae
Subkingdom     :         Tracheobionta
Divisi         :         Spermatophyta
Kelas         :         Monocotyledoneae
Subkelas     :         Commelinidae
Ordo         :         Cyperales
Famili         :         Poaceae
Genus         :         Echinochloa Beauv.
Spesies     :        Echinochloa crus-galli (L.)

Gulma E. crus-galli merupakan gulma paling dominan pada areal pertanaman padi.  E. crus-gallitermasuk tumbuhan C4 yang merupakan salah satu anggota yang paling penting dari genus Echinochloa. Jenis gulma ini memiliki penyebaran yang paling luas diseluruh Asia Selatan dan Asia Tenggara dan berperan sebagai gulma pada 36 jenis tanaman budidaya di 61 negara (Galinato et al., 1999).

E. crus-galli memiliki daun yang tegak atau rebah pada dasarnya. Daunnya memiliki ukuran panjang sampai 35 cm dan lebar 0.5-1.5 cm. Warna daun rumput ini hijau sampai hijau keabuan. Setiap daun memiliki pelepah yang tidak berambut dan memiliki panjang 9-13 cm. Pelepah daun umumnya berwarna kemerahan di bagian bawahnya. Helaian daun berukuran 5-65 cm x 6-22 mm, 
bersatu dengan pelepah, berbentuk linear dengan bagian dasar yang lebar dan melingkar dan bagian ujung yang meruncing. Permukaan daun rata, agak kasar dan menebal di bagian tepi Helaian daun memiliki beberapa rambut halus pada bagian dasarnya dan agak lebat pada permukaan daun (Fishel, 2000).

E. crus-galli memperbanyak diri secara generatif melalui biji. Jenis gulma
ini bereproduksi dengan cara penyerbukan sendiri atau penyerbukan silang. E.
crus-galli melakukan penyerbukan silang dengan menggunakan bantuan angin
(Itoh, 1991).E. crus-galli memiliki penyebaran yang sangat luas. Biji E. crus-galli dapat menyebar melalui saluran irigasi, hewan, burung, pengangkutan biji padi danmesin pertanian atau peralatan pertanian lainnya (Itoh, 1991).

Kelembaban optimum untuk perkecambahan benih E. crus-galli tergantung
dari karakteristik tanah, tetapi umumnya pada 70-90% kapasitas lapang. Benih E.
crus-galli yang berada dekat dengan permukaan tanah akan berkecambah baik
pada hari yang panas (Galinato et al., 1999).

Lemma dari floret yang pertama memiliki permukaan yang datar atau sedikit cembung atau tumpul. Glume bagian bawah memiliki panjang sekitar 1.5-2.5 mm, berbentuk ovate, memendek dan memiliki ujung yang memendek secara bertahap. Glume bagian atas memiliki panjang yang sama dengan spikelet, berbentuk ovate-oblong, runcing, memiliki rambut yang tebal dan kaku sepanjang 0.5-3 mm serta berambut pendek. Produksi benih bervariasi dari 2 000 – 40 000 benih per tanaman pada daerah bergulma. Hal tersebut menunjukkan bahwa E. crus-galli mampu menghasilkan lebih dari 1 000 kg benih/ha (Galinato et al., 1999).

III.  METODOLOGI PERCOBAAN


A.    Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah bulir gulma jawan yang masih muda dan alat tulis.

B.    Prosedur Percobaan

Adapun langkah-langkah yang dilakukan pada percobaan ini adalah sebagai berikut:
1.    Dihitung jumlah bulir jawan setiap malai
2.    Diprediksi jumlah bulir yang sudah rontok dan cara melihat bekas tangkai bulir yang ada tanpa bulir
3.    Dijumlahkan hasil perhitungan A dan B
4.    Dimasukkan data pada tabel
IV.  HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


A.    Hasil Pengamatan
Ulangan 1
Anak malai    Jumlah bulir    Prediksi jumlah bulir yang rontok    Jumlah kolom 2 dan 3    Malai muda/ tua
1    24    11    35    Muda
2    36    8    44    Muda
3    34    6    40    Muda
4    16    9    25    Muda
5    23    5    28    Muda
6    29    3    32    Muda
7    13    9    22    Muda
8    26    5    31    Muda
9    22    3    25    Muda
10    17    10    27    Muda
11    14    2    16    Muda
12    12    2    14    Muda
13    17    2    19    Muda
14    14    0    14    Muda
15    13    0    13    Muda
16    11    1    12    Muda
17    16    1    17    Muda
18    11    2    13    Muda
19    8    1    9    Muda
20    7    2    9    Muda
21    7    2    9    Muda
22    6    0    6    Muda
23    4    1    5    Muda
24    3    0    3    Muda
25    3    1    4    Muda
26    4    1    5    Muda
27    5    2    7    Muda

Ulangan 2

Anak malai    Jumlah bulir    Prediksi jumlah bulir yang rontok    Jumlah kolom 2 dan 3    Malai muda/ tua
1    40    6    46    Muda
2    43    2    45    Muda
3    33    2    35    Muda
4    30    3    33    Muda
5    27    3    30    Muda
6    25    4    29    Muda
7    24    2    26    Muda
8    16    1    17    Muda
9    19    0    19    Muda
10    20    0    20    Muda
11    18    0    18    Muda
12    3    1    4    Muda


A.    Pembahasan

Morfologi E. crus-galli
Rumput E. crus-galli sangat mirip dengan padi bila masih muda (Kasasian,
1971). E. crus-galli termasuk tumbuhan tahunan yang memiliki perawakan tegak,
berberías. Jenis rumput ini memiliki tinggi sekitar 20-150 cm (Soerjani et al.,
1987). Galinato et al. (1999) menambahkan bahwa tinggi E. crus-galli bisa
mencapai 200 cm. Gambar 1 menunjukkan bagian-bagian gulma E. Crus-galli.

Daun
Daun E. crus-galli pada saat masih muda sangat mirip dengan daun padi.
Daerah pangkal daun dapat digunakan untuk membedakan daun E. crus-galli dan
daun padi. Pangkal daun E. crus-galli tidak memiliki ligula dan aurikel,
sedangkan pangkal daun padi memiliki ligula yang bermembran dan aurikel yang
berbulu  E. crus-galli memiliki daun yang tegak atau rebah pada dasarnya.
Daunnya memiliki ukuran panjang sampai 35 cm dan lebar 0.5-1.5 cm. Warna daun rumput ini hijau sampai hijau keabuan.

Setiap daun memiliki pelepah yang tidakberambut dan memiliki panjang 9-13 cm.Pelepah daunumumnya berwarna kemerahan di bagian bawahnya. Helaian daun berukuran 5-65 cm x 6-22 mm, bersatu dengan pelepah, berbentuk linear dengan bagian dasaryang lebar dan melingkar dan bagian ujung yang meruncing. Permukaan daun rata, agak kasar dan menebal di bagian tepi. Helaian daun memiliki beberapa rambut halus pada bagian dasarnya dan agak lebat pada permukaan daun

Batang
Batang E. crus-galli kuat, tidak berambut dan berbentuk silindris dengan
intisari yang menyerupai spons putih di bagian dalamnya. Batang E. crus-galli umumnya bercabang di dekat pangkal batang. Di lahan sawah, anakan pertama dari E. crus-galli muncul 10 hari setelah perkecambahan, dan biasanya sekitar 15 anakan yang terbentuk.

Akar
E. crus-galli memiliki jenis akar yang berserat dan tebal. Akar E. crusgalli
dihasilkan pada setiap ruasnya

Bunga
Pembungaan berupa panikel apikal atau malai yang berada di ujung dengan
5-40 bunga majemuk bulir yang mempunyai tipe raceme, dengan cabang-cabang

Biji
Lemma dari floret yang pertama memiliki permukaan yang datar atau
sedikit cembung atau tumpul. Glume bagian bawah memiliki panjang sekitar 1.5-
2.5 mm, berbentuk ovate, memendek dan memiliki ujung yang memendek secara
bertahap. Glume bagian atas memiliki panjang yang sama dengan spikelet,
berbentuk ovate-oblong, runcing, memiliki rambut yang tebal dan kaku sepanjang
0.5-3 mm serta berambut pendek .Produksi benih bervariasi dari 2 000 – 40 000 benih per tanaman padadaerah bergulma. Hal tersebut menunjukkan bahwa E. crus-galli mampu menghasilkan lebih dari 1 000 kg benih/ha

Biologi Echinochloa crus-galli
Rumput E. crus-galli merupakan tumbuhan annual kelas Monocotyledon
famili Poaceae/Graminae dan mempunyai nama lain Panicum crus-galli . Klasifikasi botani gulma E. crus-galli adalah sebagai berikut :
Kingdom     : Plantae
Subkingdom     : Tracheobionta
Divisi         : Spermatophyta
Kelas         : Monocotyledoneae
Subkelas     : Commelinidae
Ordo         : Cyperales
Famili         : Poaceae
Genus         : Echinochloa Beauv.
Spesies     : Echinochloa crus-galli (L.) Beauv

E. crus-galli termasuk tumbuhan C4 yang merupakan salah satu anggota
yang paling penting dari genus Echinochloa. Jenis gulma ini memililki
penyebaran yang paling luas di seluruh Asia Selatan dan Asia Tenggara dan
berperan sebagai gulma pada 36 jenis tanaman budidaya di 61 negara (Jones,
1985; Galinato et al., 1999).

Fisiologi Gulma Jawan
E. crus-galli tumbuh pada daerah dengan ketinggian yang rendah sampai
sedang. Gulma ini tumbuh baik pada tempat dengan penyinaran penuh sepanjang
tepi perairan. E. crus-galli membutuhkan waktu 42-64 hari untuk melengkapi siklus hidupnya. Pembungaan dipengaruhi oleh panjang hari dimana pada hari pendek (8-13jam) pembungaan lebih cepat terjadi. E. crus-galli yang tumbuh pada daerah dengan penyinaran penuh memiliki bobot kering empat kali lebih besar serta jumlah malai dan anakan dua kali lebihbanyak daripada E. crus-galli yang tumbuh pada daerah dengan naungan 50%.

Pertumbuhan E. crus-galli sangat baik pada jenis tanah berpasir dan
berlempung terutama apabila kandungan nitrogennya menambahkan bahwa gulma ini dapat tumbuhpada tanah yang lembab sampai basah, dan mampu terus tumbuh walaupun hanyasebagian dari benih yang terendam. Perkecambahan 30% lebih baik di tanah padatdaripada di tanah yang kurang padat. E. crus-galli mampu tumbuh dengan baik pada tanah yang lebih kering, tetapi memiliki pertumbuhan yang lebih kecil dan menghasilkan jumlah malai, anakan dan jumlah biji yang lebih sedikit dibandingkan pada tanah berair.

Pertumbuhan E. crus-galli tidak dibatasi oleh pH tanah, tetapi E. crus-galli
akan tumbuh lebih baik pada tanah dengan pH netral. Suhu lingkungan optimum untuk perkecambahan benih adalah 32-37°C. Tingkat perkecambahan akan menurun drastis pada suhu lingkungan di bawah 10°C atau di atas 40°C. Benih E. crus-galli tidak dapat berkecambah pada kedalaman air lebih dari 12. Benih yang terendam pada kedalaman lebih dari 15 cm tidak dapat berkecambah. Kelembaban optimum untuk perkecambahan benih E. crus-galli tergantung dari karakteristik tanah, tetapi umumnya pada 70-90% kapasitas lapang. Benih E.crus-galli yang berada dekat dengan permukaan tanah akan berkecambah baik pada hari yang panas

Keuntungan dan kerugian gulma
Keuntungan dari gulma ini yaitu pada saat musim kemarau, gulma dapat menyimpan air sehingga tanaman padi tidak mengalami stress air jkarena dapat mengambil air dari gulma ini sehingga dapat mengurangi pemeliharaan contonhnya pengairan tidak dilakukan setiap hari, sehingga dapat menghemat air di musim kemarau.
Kerugian yang ditimbulkan gulma ini yaitu dapat sebagai inang hama dan penyakit. Hama yang menggunakan gulma ini yaitu walang sangit, sebelum padi masuk ke fase generatif pembuahan, walang sangit memakan built gulma ini sehingga walang sangit dapat bertahan hidup sampai pada saatnya padi mengeluarkan bulir yang masak susu, walang sangit menghisap bulir jawan ini. Semakin banyak bulir dan malai, maka semakin banyak pula populasi walang sangit itu sendiri, yang bisa membahayakan tanaman utama yaitu padi karena dapat menyebabkan bulir padi hampa atau berisi setengah, mudah patah, dan tidak bernas karena dihisap oleh walang sangit.

Pengendalian
Pengendalian yang dilakukan dapat berupa musuh alami, contohnya burung. Burung dapat memakan bulir gulma ini sehingga produksi bulir dapat menurun, selain itu dapat menggunakan musuh alami yaitu kutu putih Ferrisia virgata Cockerell. Nimfa dan kutu yang dewasa menghisap cairan pada bagian tanaman yang muda, serta memproduksi embun madu yang disukai oleh semut, sehingga produksi bulir juga dapat berkurang, selain itu dapat menggunakan herbisida sistemik, sehingga lambat laungulma tersebut mati, penggunaan herbisida kontak sebaiknya jangan karena menghindari kontaminasi herbisida ke tanaman padi.

Pembahasan data
Jumlah malai jawan menunjukkan indikator keberhasilan suatu gulma dalam mendominasi lahan di sekitar tanaman budidaya. Apabila jumlah malai banyak, dengan anakan banyak seperti pada ulangan pertama anak malai mencapai 27 tangkai, hal ini menunjukkan bahwa gulma jawan tersebut telah berhasil merebut unsur hara, sehingga pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan dengan tanaman padi. Dan keberadaan walang sangit pada jawan tersebut akan semakin banyak, karena tanaman padi sebagai inang utamanya belum dapat menghasilkan bulir. Dan sebaliknya apabila jumlah malai jawan sedikit, dan jumlah anakan malai sedikit seperti pada ulangan 2 yaitu 12 tangkai, maka tanaman padi berhasil mendominasi lahan, dan keberadaan walang sangit pada gulma jawan tersebut sedikit, karena walang sangit berada pada tanaman padi sebagai inang utamanya.

Hubungan jawan dengan walang sangit
Jawan merupakan gulma yang tumbuh di sekitar pertanaman padi sedangkan  walang sangit merupakan hama pada tanaman padi. Keduanya sangat merugikan bagi tanaman dan petani. Keduanya sama-sama dapat menurunkan produksi padi. Hanya saja berbeda cara menyerangnya. Jawan menyerang tanaman padi dengan cara tumbuh di sekitar pertanaman padi dan merebut unsur hara yang diberikan sehingga terjadi kompetisi antara jawan dan tanaman padi. Sedangkan walang sangit menyerang tanaman padi pada bagian bulir padi dan menghisap cairan yang berada pada bulir padi. Namun, apabila jawan mendominasi terlebih dahulu sebelum padi menumbuhkan bulir, maka walang sangit tidak akan menyerang padi, melainkan akan menjadikan jawan sebagai tanaman inangnya sampai bulir padi tumbuh.




V.  KESIMPULAN


Adapun kesimpulan yang diperoleh dari percobaan ini adalah sebagai berikut:

1.    Semakin banyak jumlah malai gulma jawan, maka semakin sedikit jumlah bulir padi yang dihasilkan
2.    Semakin sedikit jumlah bulir padi yang dihasilkan, maka keberadaan walang sangit pada tanaman padi semakin sedikit
3.    Jika jumlah malai gulma jawan lebih banyak menghasilkan bulir, maka keberadaan walang sangit pada gulma jawan tersebut akan semakin banyak. Jika sedikit jumlah malai jawan, maka populasi walang sangit menurun
4.    Jumlah malai pada gulma jawan merupakan indikator keberhasilan gulma jawan dalam mendominasi lahan baik berjumlah sedikit maupun banyak.











DAFTAR PUSTAKA


Fishel. 2000. Penanggulangan Gulma Secara Terpadu. PT Bina Aksara. Jakarta.

Galinato et al. 1999. Morfologi Gulma Jawan dan Syarat Tumbuh. Penebar Swadaya: Jakarta.

Itoh. 1991. Kerusakan oleh Gulma pada Tanaman, Kerugian Hasil
Disebabkab oleh Persaingan Gulma dalam Penanggulangan Gulma Secara Terpadu. PT Bina Aksara. Jakarta.

Moenandir, J. 1988. Persaingan Tanaman Budidaya dengan Gulma. Cv Rajawali.
Jakarta Utara.

Mudjiono, G., B. T. Rahardjo., T. Himawan. 1991. Hama-hama Penting Tanaman
Pangan. Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang.










LAMPIRAN
NB : JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR SAMA JOIN KE SITE INI YAAAA :D MAKASIHHH

0 komentar:

Poskan Komentar

Please leave your comment and join this site :D 감사합니다. no spam please :DD

Template by:

Free Blog Templates