Senin, 03 Desember 2012

METODE PENGUSANGAN CEPAT




METODE PENGUSANGAN CEPAT
 (Laporan Praktikum Teknologi Benih)





Oleh

Tety Maryenti
1014121179





LABORATORIUM BENIH
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2011





I. TINJAUAN PUSTAKA


Metode analisis vigor secara umum diklasifikasikan ke dalam beberapa
kelompok yaitu uji stres (uji cekaman), uji pertumbuhan dan evaluasi kecambah,
dan uji biokimia.Uji cekaman mencakup: Accelerated Ageing Test (AAT) atau
metode pengusangan dipercepat yang telah umum digunakan, Cold Test, dan
Controlled Deterioration (CD) atau metode pengusangan cepat terkontrol (PCT)
(Venter dalam Wafiroh, 2010).

Benih dimaksudkaan sebagai biji tanaman yang dipergunakan untuk tujuan penanaman. Biji merupakan suatu bentuk tanaman mini (embrio) yang masih dalam keadaan perkembangan yang terkekang. Benih (biji) mempunyai arti dan pengertian yang bermacam-macam, tergantung dari bidang dan segi mana peninjauannya. Dalam pengertian ilmu tumbuhan (botani) atau secara tepatnya embriologis, yang dimaksud dengan benih adalah biji yang berasal dari ovule.
(Sutopo, 2002)

Metode PCT pada prinsipnya sama dengan metode AAT.Hal yang membedakan adalah teknik yang digunakan selama pelaksanaannya. Metode AAT menggunakan seperangkat alat pengusangan khusus, sedangkan PCT menggunakan peralatan yang lebih sederhana dan kadar air benih diketahui
dengan jelas dan terkontrol selama penderaan
(Filho, 1998).

Metode PCT menggambarkan proses kemunduran suatu lot benih dengan alat pengusang cepat. Kadar air benih yang sering digunakan dalam metode PCT adalah 20% dengan suhu 45 C dan periode penderaan 24 jam
(Powell & Matthews, 2005)


Metode uji vigor dengan pengusangan cepat terkontrol dapat digunakan untuk mengidentifikasi secara dini toleransi tanaman terhadap suatu cekaman.Hasil penelitian menyatakan bahwa penggunaan metode PCT dengan lama penderaan 36 hingga 48 jam dan suhu 45 C, dapat mengidentifikasi secara dini genotipe padi yang toleran terhadap salinitas setara dengan ketahanan pada konsentrasi NaCl 200 mM.
(Alam et al,2005)



II.  METODOLOGI PERCOBAAN


A. Tempat dan Waktu

Praktikum ini dilaksanakan di laboratorium benih pada Hari Jumat, tanggal 30 September 2011, pukul 08.00-10.00 WIB.


B. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah MPC Tipe IPB 77-1, Kertas merang, Plastik lembaran, APB Tipe IPB 7302B, Alat tulis, Benih buncis, Etanol 95%


C. Cara Kerja

1.    Disiapkan benih buncis masing-masing sebanyak 3x25x6, 3 ulangan.
2.    Semua benih dilembabkan pada kertas lembab selama sekurangnya 12 jam.
3.    Benih-benih lembab itu diletakkan pada rak MPC.
4.    Dipasang pengatur waktu pada MPC 10 menit, dan hidupkan MPC. Etanol yang ada dalam tabung akan diuapkan dan masuk ke dalam ruang MPC.
5.    Pengusangan cepat pada benih dengan intensitas pengusangan makin tinggi, yaitu 0, 10, 20, 30, 40, dan 50 menit.
6.    Setiap setelah selesai benih didera uap etanol 95%, benih diuji viabilitasnya dengan uji keserempakkan perkecambahan benih.






III. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Pengamatan

Pengusangan    Ulangan    NT    NK    NL
0    1    21    12    9
    2    16    7    9
    3    19    18    1
25    1    16    15    1
    2    21    18    3
    3    16    11    5
50    1    18    12    6
    2    14    10    4
    3    18    15    3


B. Pembahasan

Mesin pengusangan cepat digunakan untuk memprediksi umur simpan  benih dengan uap etanol sebagai pengusang. Terdapat tabung dibelakang alat ini. Etanol dimasukkan ke dalam tabung tersebut dan benih diaktifkan (dilembabkan) selama 12 jam.

Pada lampiran, didapatkan data perhitungan sebagai berikut, pada 0 menit ulangan 1 adalah NT=84%, NK=48%, D=48%, Rv=175%. Pada 0 menit ulangan 2 adalah NT=64%, NK=28%, D=36%, Rv=228.6%. Pada 0 menit ulangan 3 adalah NT=76%, NK=72%, D=4%, Rv=105.6%.

Pada 25 menit 1 adalah NT=64%, NK=60%, D=4%, Rv=106.7%. Pada 25 menit ulangan 2 adalah NT=84%, NK=72%, D=12%, Rv=116.7%. Pada 25 menit ulangan 3 adalah NT=64%, NK=44%, D=20%, Rv=145.5%.

Pada 50 menit 1 adalah NT=72%, NK=48%, D=24%, Rv=150%. Pada 50 menit ulangan 2 adalah NT=56%, NK=40%, D=16%, Rv=140%. Pada 50 menit ulangan 3 adalah NT=72%, NK=60%, D=12%, Rv=120%.

Pada praktikum kali ini digunakan benih buncis. Benih dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama, benih tidak diusangkan, bagian kedua, benih diusangkan selama 25 menit, serta bagian ketiga, benih diusangkan selama 50 menit. Kemudian benih tersebut ditanam pada kertas merang dan diletakkan pada rak dalam APB 73-2B. Pengamatan dilakukan setelah 4x24 jam benih tersebut ditanam.

Hasil yang didapatkan dari praktikum yaitu hasil penelitian menggunakan alat ini menunjukkan bahwa kemunduran benih akibat deraan uap etanol memiliki kemiripan gejala pada kemunduran benih secara alamiah, MPC juga dapat digunakan untuk menduga daya simpan benih, menduga daya konservasi pratanam benih buncis, dan untuk menguji ulang daya simpan benih.

Kemunduran benih dapat ditengarai secara biokimia dan fisiologi. Indikasi biokimia kemunduran benih dicirikan antara lain penurunan aktivitas enzim, penurunan cadangan makanan, meningkatnya nilai konduktivitas. Indikasi fisiologi kemunduran benih antara lain penurunan daya berkecambah dan vigor.

Menurunnya daya berkecambah benih yang disimpan berhubungan dengan tingginya kadar air menyebabkan struktur membran mitokondria tidak teratur sehingga permeabilitas membran meningkat. Banyak metabolit antara lain gula, asam amino dan lemak yang bocor keluar sel disebabkan peningkatan permeabilitas membran. Dengan demikian substrat untuk respirasi berkurang sehingga energi yang dihasilkan untuk berkecambah berkurang. Suhu
dan kadar air tinggi merupakan faktor penyebab menurunnya daya berkecambah dan vigor. Etanol dalam praktikum ini digunakan untuk merusak enzim yang ada di dalam benih.

Pada praktikum kali ini terbukti bahwa makin lama benih didera oleh uap etanol, maka makin sedikit benih yang dapat berkecambah. Kemungkinan hal ini terjadi dikarenakan perbedaan tingkat kevigoran dari setiap benih, baik pada spesies yang sama maupun spesies yang berbeda. Jadi, dimungkinkan sampel benih yang diusangkan pada periode 50 menit memiliki kevigoran lebih tinggi dibandingkan benih-benih buncis yang lainnya dan itu berarti benih tersebut memiliki daya simpan yang tinggi.

Ketika pengamatan, ditemukan adanya kerusakan benih yang ditandai dengan terdapatnya ulat atau belatung yang memakan benih buncis tersebut sehingga tergolong benih mati. Hal ini dapat disebabkan karena benih buncis cepat mengalami kemunduran di dalam penyimpanan, disebabkan kandungan lemak dan proteinnya relatif tinggi yang ada di dalam benih itu, sehingga perlu ditangani secara serius sebelum disimpan karena kadar air benih akan meningkat jika suhu dan kelembaban ruang simpan cukup tinggi. . Untuk mencegah peningkatan kadar air selama penyimpanan benih, diperlukan kemasan yang kedap udara dan uap air

Ahli-ahli fisiologis menyatakan bahwa perkecambahan adalah munculya radikel menembus kulit benih.. Pengamatan dilakukan dengan membagi benih ke dalam tiga golongan tergantung pada gejala perkecambahannya, yaitu:
1.    Kecambah normal kuat (NK)
Kecamabah dikatakan normal kuat bila secara fisik kecambah tersebut menampilkan bentuk yang lebih vigor, hipokotil lebih besar dan lebih panjang, akar lebih besar,panjang, dan lebih banyak, plumula lebih lebar diantara semua kecambah normal dalam periode pengujian tersebut.



2.    Kecambah normal lemah (NL)
Kecambah dikatakan normal lemah apabila bagian-bagiannya tumbuh tetapi tidak sesempurna kecambah normal kuat. Bagian akarnya lemah, dan biasanya pendek.
3.    Kecambah abnormal atau benih mati
Kecambah dikatakan abnormal bila salah satu bagiannya tidak muncul, atau muncul tetapi rusak atau tidak sempurna, seperti akarnya tidak muncul. Sedangkan benih dikatakan mati apabila sampai akhir periode pengujian tidak menunjukkan adanya gejala perkecambahan dan bukan merupakan benih keras.(Sadjad, 1985)

Vigor adalah sejumlah sifat-sifat benih yang mengindikasikan pertumbuhan dan perkembangan kecambah yang cepat dan seragam pada cakupan kondisi lapang yang luas. Vigor tumbuh dapat dikatakan sebagai “kekuatan tumbuh” untuk menjadi tanaman yang normal meskipun keadaan biofisik lapangan kurang menguntungkan (sub optimal). Pada hakekatnya vigor benih harus relevan dengan tingkat produksi, artinya dari benihbervigor tinggi akan dapat dicapai tingkat produksi yang tinggi pula.
Benih vigor yang tinggi dicirikan :
1.    Cepat dan pertumbuhannya merata.
2.    Tahan disimpan lama.
3.    Mempu menghasilkan tanaman dewasa yang normal dan
berproduksi baik dalam lingkungan tumbuh yang sub optimal.
4.    Tahan terhadap serangan hama penyakit.
Benih yang memiliki vigor rendah berakibat :
1.    Rendahnya produksi tanaman.
2.    Kecepatan berkecambah benih menurun.
3.    Kemunduran benih yang capat selama penyimpanan.
4.    Kepekaan akan serangan hama penyakit meningkat.
5.    Makin sempitnya keadaan lingkungan dimana benih dapat tumbuh.
6.    Meningkatnya jumlah kecambah abnormal. (Venter dalam Wafiroh, 2010)




. KESIMPULAN


Adapun kesimpulan yang didapat dari praktikum ini adalah :
1.    Mesin pengusangan cepat digunakan untuk memprediksi umur simpan  benih.
2.    Makin lama benih didera oleh uap etanol, maka makin sedikit benih yang dapat berkecambah.
3.    Keganjalan yang ditunjukkan oleh pertumbuhan benih kedelai pada periode pengusangan 50 menit dimungkinkan karena perbedaan tingkat kevigoran dari setiap benih.
4.    Adanya belatung pada kertas merang disebabkan oleh kerusakan benih


DAFTAR PUSTAKA


Alam et al. 2005. Pemuliaan Tanaman. IKIP Semarang Press : Semarang.

Filho.1998. Pengantar Produksi Benih. Rajawali Press, Jakarta.

Powell & Matthews, 2005. 2004. Metode Pengusangan Cepat. Jakarta : Rineka Cipta.

Sutopo, Lita. 2002. Teknologi Benih. CV. Rajawali : Jakarta.

Venter dalam Wafiroh, 2010. Dari Benih kepada Benih. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia.








PERHITUNGAN




•    0 MENIT ULANGAN 1
NT        :  84%
NK        :  48%
D        :  36%
Rv        :  175%

•    0 MENIT ULANGAN 2

NT        :  64%
NK        :  28%
D        :  36%
Rv        :  228.6%

•    0 MENIT ULANGAN 3

NT        :  76%
NK        :  72%


D        :  4%
Rv        :  105.6%

•    25 MENIT ULANGAN 1

NT        :  64%
NK    v    :  60%
D        :  4%
Rv        :  106.7%

•    25 MENIT ULANGAN 2

NT        :  84%
NK        :  72%
D        :  12%
Rv        :  116.7%

•    25 MENIT ULANGAN 3

NT        :  64%
NK        :  44%
D        :  20%
Rv        :  145.5%

•    50 MENIT ULANGAN 1

NT        :  72%
NK        :  48%
D        :  24%
Rv        :  150%

•    50 MENIT ULANGAN 2

NT        :  56%
NK        :  40%
D        :  16%
Rv        :  140%


•    50 MENIT ULANGAN 3

NT        :  72%
NK        :  60%
D        :  12%
Rv        :  120%























Gambar grafik
Pengusangan
•    Benih buncis 0 menit

•    Benih buncis 25 menit










•    Benih buncis 50 menit


























Gambar Praktikum


No    Gambar    Keterangan Gambar
1         Benih pada 0 menit ulangan 1.
NT=21
NK=12
D=9

2         Benih pada 0 menit ulangan 2.
NT=16
NK=7
D=9

3         Benih pada 0 menit ulangan 3.
NT=19
NK=18
D=1

4         Benih pada 25 menit ulangan 1.
NT=
NK=
D=

5         Benih pada 25 menit ulangan 2.
NT=16
NK=15
D=1

6         Benih pada 25 menit ulangan 3.
NT=21
NK=18
D=3

7         Benih pada 50 menit u
langan 1.
NT=18
NK=12
D=6
8         Benih pada 50 menit ulangan 2.
NT=14
NK=10
D=4

9         Benih pada 50 menit ulangan 3.
NT=18
NK=15
D=3

KOMENTARNYA YAAA :D DAN  JOIN KE SITE INI JUGA:D GOMAWOO :D



























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Please leave your comment and join this site :D 감사합니다. no spam please :DD

Template by:

Free Blog Templates