Senin, 03 Desember 2012

ADAPTASI TANAMAN SORGUM (Sorghum bicolor L.) VARIETAS MANDAU DI KEBUN PERCOBAAN UNILA




ADAPTASI TANAMAN SORGUM (Sorghum bicolor L.) VARIETAS MANDAU DI KEBUN PERCOBAAN UNILA
(Laporan Praktikum Produksi Tanaman Pangan)





Oleh
KELOMPOK 2
Reta Ramadina Rias (1014121151)
Riza Aprianti (1014121159)
Tety Maryenti (1014121179)











PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2012



I.    PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Sorgum( Sorghum spp.) adalah tanaman serbaguna yang dapat digunakan sebagai sumber pangan, pakan ternak dan bahan baku industri. Sebagai bahan pangan ke-5, sorgum berada pada urutan ke-5 setelah gandum, jagung, padi, dan jelai. Sorgum merupakan makanan pokok penting di Asia Selatan dan Afrika sub-sahara.Keunggulan sorgum terletak pada daya adaptasi agroekologi yang luas, tahan terhadap kekeringan, produksi tinggi, perlu input lebih sedikit serta lebih tahan terhadap hama dan penyakit dibading tanaman pangan lain.

Produksi sorgum di Indonesia masih sangat rendah,bahkan secara umum produk sorgum belum tersedia di pasar-pasar. Terkait dengan energi, di beberapa negara seperti Amerika, India dan Cina, sorgum telah digunakan sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar etanol (bioetanol). Secara tradisional, bioetanol telah lebih lama diproduksi dari molases hasil limbah pengolahan gula tebu (sugarcane). Walaupun harga molases tebu relatif lebih murah, namun bioetanol sorgum dapat berkompetisi. Aspek Ekonomi dan Botani Sorgum.

Sorgum termasuk tanaman rumputan kekar dengan tinggi mencapai 0,5 - 6 m. Batang tunggal, padat tanpa rongga, dan di bagian tengahnya terdapat berkas-berkas pengangkut. Daun mempunyai panjang 30 - 135 cm, dan lebar 1,5 - 15 cm. Sistem perakaran memanjang sampai kedalaman 1,5 m ke dalam tanah, dimana 90% dari jumlah akar terletak pada kedalaman sampai 90 cm dari permukaan tanah. Biji sorgum berbentuk bola dan mempunyai warna yang bervariasi, dari putih, kuning pucat, merah, cokelat, sampai cokelat tua keunguan. Keberhasilan perkecambahannya selain dipengaruhi oleh lingkungan (suhu, air, cahaya, dan sebagainya) juga dipengaruhi oleh keadaan biji (penuaan pada saat panen, penyimpanan, ukuran dan berat biji).

Sorgum mempunyai prospek yang cukup baik untuk dikembangkan di Indonesia sebagai tanaman penghasil bahan pangan dan pakan ternak. Sistem pengolahan tanah bagi sorgum sebaiknya dilakukan seperti halnya pengolahan tanah pada jagung. Waktu tanam sorgum sebaiknya diatur dengan baik agar pembungaan tanaman terjadi pada saat hujan mulai kurang dan pemasakan biji bersamaan pada musim kemarau.


1.2 Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum produksi tanaman sorgum varietas Mandau adalah sebagai berikut:
1.    Mengetahui teknik berbudidaya tanaman sorgum varietas Mandau
2.    Mengetahui pertumbuhan dan perkembangan (adaptasi) tanaman sorgum varietas Mandau di kebun percobaan UNILA
3.    Mengetahui karakteristik tanaman sorgum varietas Mandau.
4.    Membandingkan pertumbuhan tanaman sorgum varietas Mandau  dengan sorgum varietas lain.



II.  TINJAUAN PUSTAKA


Klasifikasi Taksonomi Tanaman Sorgum:
Kingdom    : Plantae/tumbuhan
Subkingdom    : Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi    : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisi        : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)
Kelas        : Liliopsida (berkeping satu/monokotil)
SubKelas    : Commelinidae
Ordo        : Poales
Famili        : Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus        : Sorghum
Spesies    : Sorghum bicolor (L.) Moench
(Anonim, 2012)

Tanaman sorgum merupakan tanaman yang termasuk ke dalam
famili graminae yang mampu tumbuh tinggi hingga 6 meter. Bunga sorgum
termasuk bunga sempurna dimana kedua alat kelaminnya berada di dalam
satu bunga. Bunga sorgum merupakan bunga tipe panicle (susunan bunga di
tangkai). Rangkaian bunga sorgum berada di bagian ujung tanaman. Bentuk
tanaman ini secara umum hampir mirip dengan jagung, yang membedakan
adalah tipe bunga dimana jagung memiliki bunga tidak sempurna, sedangkan sorgum bunga sempurna.Tanaman sorgum memiliki akar serabut.
menyatakan bahwa sorgum merupakan tanaman biji berkeping satu tidak
membentuk akar tunggang dan hanya akar lateral. Sistem perakarannya
terdiri atas akar-akar seminal (akar-akar primer) pada dasar buku pertama
pangkal batang, akar-akar koronal (akar-akar pada pangkal batang yang tumbuh ke arah atas) dan akar udara (akar-akar yang tumbuh dipermukaan
tanah).Tanaman sorgum membentuk perakaran sekunder 2 kali lipat dari
jagung, (Rismunandar, 2006).

Tanaman sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) merupakan tanaman graminae yang mampu tumbuh hingga 6 meter. Bunga sorgum termasuk bunga sempurna dimana kedua alat kelaminnya berada di dalam satu bunga. Pada daun sorgum terdapat lapisan lilin yang ada pada lapisan epidermisnya. Adanya lapisan lilin tersebut menyebabkan tanaman sorgum mampu bertahan pada daerah dengan kelembaban sangat rendah (Kusuma dkk., 2008).

Pentingnya tanaman sorgum tersebut menyebabkan perkembangan pemuliaan tanaman ini berkembang cukup pesat. Pemuliaan tanaman sorgum lebih diarahkan pada tinggi tanaman, hasil, ketahanan terhadap hama penyakit, kualitas dan mutu biji. Berdasarkan bentuk malai dan tipe spikelet, sorgum diklasifikasikan ke dalam 5 ras yaitu ras Bicolor, Guenia, Caudatum, Kafir, dan Durra. Ras Durra yang umumnya berbiji putih merupakan tipe paling banyak dibudidayakan sebagai sorgum biji (grain sorgum) dan digunakan sebagai sumber bahan pangan. Diantara ras Durra terdapat varietas yang memiliki batang dengan kadar gula tinggi disebut sebagai sorgum manis (sweet sorghum). Sedangkan  ras-ras lain pada umumnya digunakan sebagai biomasa dan pakan ternak. Program pemuliaan sorgum telah berhasil memperoleh varietas dengan kandungan gula yang tinggi (sweet sorghum) sehingga dapat menggantikan tanaman tebu sebagai penghasil bahan pemanis. Sorgum manis tersebut telah berhasil dibudidayakan di China sebagai bahan pembuat biofuel (Kusuma dkk., 2008).

Sorgum merupakan tanaman dari keluarga Poaceae dan marga Sorghum. Sorgum sendiri memiliki 32 spesies. Diantara spesies-spesies tersebut, yang paling banyak dibudidayakan adalah spesies Sorghum bicolor (japonicum). Tanaman yang lazim dikenal masyarakat Jawa dengan nama Cantel ini sekeluarga dengan tanaman serealia lainnya seperti padi, jagung, hanjeli dan gandum serta tanaman lain seperti bambu dan tebu. Dalam taksonomi, tanaman-tanaman tersebut tergolong dalam satu keluarga besar Poaceae yang juga sering disebut sebagai Gramineae/rumput-rumputan (Anas, 2011).

Sorgum telah dibudidayakan di Cina selama lebih dari 5000 tahun dan sekarang roti dengan bahan sorgum merupakan makanan paling penting di sebagian besar daerah kering di Afrika dan Asia (Bouman, 1985). Bahan pangan biji sorgum dapat diolah menjadi berbagai macam makanan. Tepung sorgum dapat diolah sebagai bahan dasar roti. Roti tawar yang terbuat dari tepung sorgum tidak berbeda teksturnya dibandingkan roti yang terbuat dari tepung terigu  (Syam dkk., 1996).

Lingkungan tumbuh untuk tanaman sorgum adalah optimum pada ketinggian tempat kurang lebih 0 – 500 m dpl. Semakin tinggi tempat pertanaman akan semakin memperlambat waktu berbunga dari tanaman sorgum. Temperatur yang dibutuhkan tanaman sorgum adalah 25°C – 27°C adalah suhu terbaik untuk perkecambahan biji sorgum, sedangkan untuk pertumbuhannya perlu suhu sekitar 23oC – 30°C dengan keasaman tanah atau pH optimum tanah untuk pertumbuhannya sekitar 6.0 – 7.5. Sorghum dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan pakan ternak, memiliki kandungan nutrisi yang baik bahkan kandungan proteinnya lebih tinggi daripada beras. Kandungan tersebut adalah kalori (332 cal), protein (11,0 g), lemak (3,3 g), karbohidrat (73,0 g), kalsium (28,0 mg), besi (4,4 mg), posfor (287 mg) dan vit B1 (0,38 mg) (Laimehewira Jantje, 1997).

Keunggulan sorgum terletak pada daya adaptasi agroekologi yang luas, tahan terhadap kekeringan, produksi tinggi, perlu input lebih sedikit serta lebih tahan terhadap hama dan penyakit dibanding tanaman pangan lain seperti jagung dan gandum. Selain itu, tanaman sorgum memiliki kandungan nutrisi yang baik, sehingga dapat digunakan sebagai sumber bahan pangan maupun pakan ternak alternatif. Biji sorgum memiliki kandungan karbohidrat tinggi dan sering digunakan sebagai bahan baku industri bir, pati, gula cair atau sirup, etanol, lem, cat, kertas dan industri lainnya. Tanaman sorgum telah lama dan banyak dikenal oleh petani Indonesia khususnya di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, Maluku, NTB, dan NTT (Yanuwar, 2002).



III.  BAHAN DAN METODE


3.1 Tempat dan Waktu Praktikum

Adapun tempat, dan waktu praktikum berlangsung adalah pada hari  Senin yang bertempat di Kebun Percobaan UNILA dengan waktu praktikum pukul 15.00-17.00 WIB




3.2 Alat dan Bahan

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu cangkul, arit, gembor, kayu untuk menandai sorgum,plastik, penyungkup buah sorgum, meteran untuk pengukur tinggi, dan timbangan. Sedangkan bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu benih sorgum varietas mandau, dan pupuk Urea ,TSP, dan KCl sesuai dengan takaran yang diberikan yaitu 150 gr untuk urea, 100 gr TSP, dan100 gr KCl dan furadan.


3.3 Metode Praktikum

Adapun metode yang digunakan saat praktikum berlangsung adalah Penetapan lahan dilakukan terlebih dahulu, Pembagian lahan menjadi 10 kelompok, Pembersihan lahan, Penggarapan lahan, Penetapan jarak tanam, panjang, dan lebar lahan, Pembuatan guludan, Penanaman benih sorgum, Pemberian furadan, Polibag untuk tanaman sulaman, Menyulam tanaman bila tanaman tidak tumbuh, Pemberiaan pupuk pertama setelah 21 HST atau 3 minggu setelah tanam, Penghitungan tinggi tanaman, jumlah daun, Penyiraman tanaman, Penyiangan, Pemberian pupuk kedua, Penyungkupan, Pemanenan, Pasca panen, dan Penimbangan


3.4 Pelaksanaan Praktikum

Adapun pelaksanaan praktikum adaptasi tanaman sorgum varietas mandau ini adalah sebelum melakukan praktikum, praktikan mencari lahan untuk ditetapkan sebagai lahan tempat penanaman sorgum, kemudian lahan tersebut dibagi untuk 10 kelompok. Kelompok kedua mendapatkan tugas untuk menanam sorgum varietas mandau dengan panjang lahan dan lebar lahan yaitu 3x4 meter. Banyaknya rumput liar membuat praktikan harus menyiangi rumput terlebih dahulu dengan menggunakan arit, kemudian dapat menggarap lahan dengan menggunakan cangkul. Penggarapan lahan ini berlangsung selama 2 hari, selanjutnya lahan ditinggikan, dibuat saluran drainase, dan juga jarak antar tanaman. Panjang dan lebar lahan yaitu 3x4 meter, dan jarak tanam yang ditentukan antar tanaman yaitu 60x20 cm. Selanjutnya lahan tersebut dibuat guludan yang berfungsi untuk memperbanyak akar, menguatkan tumbuhnya, dan memelihara struktur tanah.

Lalu benih sorgum ditanam dengan cara tugal, dengan jumlah 3-5 benih/lubang tanam. Dalam 1 guludan, terbagi menjadi 3 barisan tanaman sorgum dan tiap lubang diberi furadan. Fungsi dari furadan itu sendiri adalah untuk membunuh serangga dalam bentuk larva seperti penggerek daun, lalat daun, wereng hijau, ganjur, lundi/uret, nematoda bintil akar, perusak daun, ulat grayak, dan penggerek pucuk, sehingga aplikasi furadan dalam pembibitan sangat membantu agar benih yang disemaikan dapat terbebas dari hama tersebut.. Selanjutnya tanaman sorgum tumbuh dengan baik dan serempak dan dipilih 2 tanaman yang paling baik, 3 lainnya dicabut. Polibag untuk penyulaman juga telah disiapkan ketika menanam benih sehingga apabila terdapat tanaman yang mati maka bisa digantikan dengan tanaman hasil sulaman.Setelah 21 HST, tanaman diberikan pupk urea sebanyak 75 gr urea, pengaplikasian urea dilakukan 2 kali sehingga pupuk urea yang keseluruhannya 150 gr, pada pemupukan 1 digunakan sebanyak 75 gram. Selanjutnya memilih 9 tanaman sebagai sampel, setiap baris dipilih 3 tanaman. Sampel ini akan digunakan dalam melihat variabel yang diamati seperti tinggi daun, jumlah daun, dan juga berat jenis benih sorgum nantinya. Tanaman setiap harinya disiram agar tanaman tidak kekurangan air, sehingga penyerapan hara dapat berjalan dengan baik dan juga penyiangan diperlukan agar tanaman tidak bersaing dalam mendapatkan unsur hara dengan gulma. Pemupukan kedua dapat dilakukan sebelum tanaman mengeluarkan daun bendera dengan yakaran pupuk 75 gr Urea. Saat tanaman telah mengeluarkan daun bendera, kejadian ini juga dicatat dan dimasukkan ke dalam log book.

Saat sorgum matang susu (milk grain), dilakukan penyungkupan agar terhindar dari burung pemakan biji sorgum, ataupun hama lainnya yang dapat mengancam ketidakberhasilan pemanenan. Penyungkupan dilakukan dengan menyungkup malai sorgum dan tetap memberikan udara agar tidak tumbuh jamur. Setelah beberapa hari kemudian, ketika akan melakukan penyiraman, terdapat kejadian aneh yang terjadi pada tanaman sorgum kelompok 2, bulir sorgum keseluruhan rusak, batang patah dan bewarna merah seperti terkena penyakit, dan roboh seperti dirusak. Setelah dilakukan identifikasi ternyata tanaman sorgum kelompok 2 terkena hama ulat penggerek batang (Basiolafusca)dan Rhitydodera simulans dan ulat penggerek malay (Crytoblabes gnidiella) yang menyebabkan batang bewarna merah sehingga terjadi gangguan mekanisme transportasi hasil fotosintat yang menyebabkan sorgum rusak, busuk, dan rebah. Sehingga kelompok 2 tidak bisa melakukan panen, hanya dapat menghitung bobot tanaman dari sampel 1 sampai dengan 9.


3.5 Variabel yang Diamati

Variabel yang diamati dalam pelaksanaan praktikum ini yaitu tinggi batang tanaman sorgum, jumlah daun tanaman sorgum, dan berat jenis biji sorgum. Pada awal pemilihan sampel tanaman sorgum (09 April 2012) yaitu 9 tanaman, di dapatkan data sorgum 1 dengan tinggi 46 cm dan jumlah daun 5, sorgum 2 dengan tinggi 61 cm, dan jumlah daun 6, selanjutnya sorgum 3, tingginya 67 cm dan daunnya 6 (Baris 1), sedangkan pada baris kedua sorgum 4 dengan tinggi 70cm dan jumlah daun 5, sorgum 5 dengan tinggi 66 cm, dan jumlah daun 6, selanjutnya sorgum 6, tingginya 69 cm dan daunnya 5. Dan pada baris ketiga, sorgum7 memiliki tinggi 63 cm, dan jumlah daun 5, sorgum 8 tingginya 64 cm, jumlah daun yaitu 7, dan sorgum 9, tingginya 90 cm dengan jumlah daun 7 helai. Sehingga tinggi rata-rata pada perhitungan pertama adalah 69.5 dan rata-rata jumlah daun sampel adalah 6 helai.

Pada tanggal 16 April 2012, dilakukan kegiatan penyiraman, perawatan, dan juga pengukuran. Sehingga didapat data sorgum yaitu sorgum 1 dengan tinggi 76 cm dan jumlah daun 6, sorgum 2 dengan tinggi 92 cm, dan jumlah daun 9, selanjutnya sorgum 3, tingginya 115 cm dan daunnya 8 (Baris 1), sedangkan pada baris kedua sorgum 4 dengan tinggi 98 cm dan jumlah daun 8, sorgum 5 dengan tinggi 103 cm, dan jumlah daun 7, selanjutnya sorgum 6, tingginya 114 cm dan daunnya 8. Dan pada baris ketiga, sorgum7 memiliki tinggi 94 cm, dan jumlah daun 7, sorgum 8 tingginya 115 cm, jumlah daun yaitu 9, dan sorgum 9, tingginya 124 cm dengan jumlah daun 9 helai. Sehingga tinggi rata-rata pada perhitungan kedua adalah 103.44 dan rata-rata jumlah daun sampel adalah 8 helai.

Pada tanggal 23 April 2012, dilakukan kegiatan penyiraman, perawatan, dan juga pengukuran. Sehingga didapat data sorgum yaitu sorgum 1 dengan tinggi 91.6 cm dan jumlah daun 7, sorgum 2 dengan tinggi 110.5 cm, dan jumlah daun 9, selanjutnya sorgum 3, tingginya 130 cm dan daunnya 10 (Baris 1), sedangkan pada baris kedua sorgum 4 dengan tinggi 122 cm dan jumlah daun 8, sorgum 5 dengan tinggi 125 cm, dan jumlah daun 9, selanjutnya sorgum 6, tingginya 136.5 cm dan daunnya 8. Dan pada baris ketiga, sorgum 7 memiliki tinggi 114 cm, dan jumlah daun 9, sorgum 8 tingginya 150  cm, jumlah daun yaitu 11, dan sorgum 9, tingginya 145.5 cm dengan jumlah daun 12 helai. Sehingga tinggi rata-rata pada perhitungan ketiga adalah 125 dan rata-rata jumlah daun sampel adalah 9 helai.

Pada tanggal 07 Mei 2012, dilakukan kegiatan penyiraman, perawatan, dan juga pengukuran. Sehingga didapat data sorgum yaitu sorgum 1 dengan tinggi 114 cm dan jumlah daun 7, sorgum 2 dengan tinggi 140 cm, dan jumlah daun 10, selanjutnya sorgum 3, tingginya 157 cm dan daunnya 10 (Baris 1), sedangkan pada baris kedua sorgum 4 dengan tinggi 154 cm dan jumlah daun 11, sorgum 5 dengan tinggi 134 cm, dan jumlah daun 9, selanjutnya sorgum 6, tingginya 129 cm dan daunnya 9. Dan pada baris ketiga, sorgum 7 memiliki tinggi 140 cm, dan jumlah daun 9, sorgum 8 tingginya 174 cm, jumlah daun yaitu 11, dan sorgum 9, tingginya 167 cm dengan jumlah daun 10 helai. Sehingga tinggi rata-rata pada perhitungan keempat adalah 145.5 dan rata-rata jumlah daun sampel adalah 9 helai.Pada sorgum 3, 8, dan 9, telah keluar malai. Dan yang lainnya juga telah keluar daun bendera.

Pada tanggal 11 Juni 2012, tanaman sorgum terkena serangan Ulat penggerek batang dan malai sehingga tanaman rusak parah dan gagal panen, tidak ada tanaman sorgum yang dapat diselamatkan.

Pada tanggal 15 Juni 2012,kelompok 2 mendapatkan data berat tanaman sorgum.sampel 1 dengan berat 100 gr, sampel 2 dengan berat 200 gr, sampel 3 dengan berat 250 gr, sampel 4 dengan berat 450 gr, sampel 5 dengan berat 150 gr, sampel 6 dengan berat 200 gr, sampel 7 dengan berat 100 gr, sampel 8 dengan berat 250 gr, dan terakhir yaitu sampel 9 dengan berat 400 gr. Rata-rata berat tanaman yaitu 234 gr. Berat tanaman non sample yang berjumlah btang adalah baris 1 yaitu 2.9 kg, baris 2 yaitu 2.8 kg, dan baris 3 yaitu 2.94 kg.



IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Pengamatan

Tabel 1 . Hasil pengukuran sample tanaman sorgum pada 4 minggu setelah tanam (Senin, 9 april 2012)
Sample Ke    Tinggi Tanaman    Jumlah Daun
1    46 cm    5
2    61 cm    6
3    67 cm    6
4    70 cm    5
5    66 cm    6
6    69 cm    5
7    63 cm    5
8    94 cm    7
9    90 cm    7


Tabel 2 . Hasil pengukuran sample tanaman sorgum pada 5 minggu setelah tanam (Senin, 16 april 2012)
Sample Ke    Tinggi Tanaman    Jumlah Daun
1    76 cm    6
2    92 cm    9
3    115 cm    8
4    98 cm    8
5    103 cm    7
6    114 cm    8
7    94 cm    7
8    115 cm    9
9    124 cm    9


Tabel 3 . Hasil pengukuran sample tanaman sorgum pada 6 minggu setelah tanam (Senin, 23 april 2012)
Sample Ke    Tinggi Tanaman    Jumlah Daun
1    91,5 cm    7
2    110,5 cm    9
3    130 cm    10
4    122 cm    10
5    125 cm    9
6    136,5 cm    8
7    114 cm    9
8    150 cm    11
9    145,5 cm    12


Tabel 4 . Hasil pengukuran sample tanaman sorgum pada 7 minggu setelah tanam (Senin, 30 april 2012)
Sample Ke    Tinggi Tanaman    Jumlah Daun
1    110 cm    6
2    133 cm    9
3    146 cm    12
4    155 cm    11
5    135 cm    9
6    127 cm    9
7    134 cm    9
8    170 cm    12
9    155 cm    12


Tabel 5 . Hasil pengukuran sample tanaman sorgum pada 8 minggu setelah tanam (Senin, 7 mei 2012)
Sample Ke    Tinggi Tanaman    Jumlah Daun    Daun bendera    malai
1    114 cm    7    -    -
2    140 cm    10    √    -
3    157 cm    10    √    √
4    154 cm    11    √    -
5    134 cm    9    √    -
6    129 cm    9    √    -
7    140 cm    9    √    -
8    174 cm    11    √    √
9    167 cm    10    √    √

Keterangan :  √ : sudah terdapat/sudah muncul
-    : belum terdapat / belum muncul

Tabel 6 . Hasil pengukuran sample tanaman sorgum pada 9 minggu setelah tanam (Senin, 14 mei 2012)
Sample Ke    Tinggi Tanaman    Jumlah Daun    Daun bendera    malai
1    118 cm    8    √    √
2    145 cm    10    √    √
3    162 cm    10    √    √
4    159 cm    11    √    √
5    160 cm    9    √    √
6    134 cm    9    √    √
7    147 cm    9    √    √
8    178 cm    11    √    √
9    172 cm    10    √    √

Keterangan :  √ : sudah terdapat/sudah muncul
-    : belum terdapat / belum muncul


Tabel 7 . Hasil pengukuran bobot sample tanaman sorgum pada Jumat , 15 april 2012 setelah tanaman terserang hama penggerek batang
Sample Ke    Bobot Tanaman
1    100 gram
2    200 gram
3    250 gram
4    450 gram
5    150 gram
6    200 gram
7    100 gram
8    250 gram
9    400 gram
Rata-rata    234 gram


Tabel 8 . Hasil pengukuran bobot  non sample tanaman sorgum pada Jumat , 15 april 2012 setelah tanaman terserang hama penggerek batang
Baris Ke    Bobot Tanaman
1    2900 gram
2    2800 gram
3    3100 gram
Rata-rata    2940 gram


4.2 Pembahasan

Pada praktikum produksi tanaman pangan ini kami menanam sorgum varietas mandau , dengan keunggulan tahan rebah dan memili sifat malai yang semi kompak. Sorgum varietas mandau ini ditanam di kebun percobaan Universitas Lampung  dengan jarak tanam 60 cm x 40 cm dan luasan lahan percobaan 4 m x 3 m, dengan jumlah benih yang ditanam per lubang tanam adalah 5 butir benih sorgum per lubang tanam.selain itu sisa benih ditanam pada polibag 10 kg hal ini ditujukan untuk bahan penyulaman jika ada tanaman sorgum yang tidak tumbuh pada lahan percobaan. Setelah satu minggu setelah tanam benih sorgum yang ditanam sudah tumbuh seluruhnya secara merata.Karena benih yang ditanam pada lahan tumbuh seluruhnya jadi penyulaman tanaman tidak dilakukan.

Permasalahan utama yang kami alami pada budidaya tanaman sorgum varietas mandau adalah adanya serangan Ulat penggerek batang dan kami terlambat mengetahui terjadinya serangan sehingga menyerang seluruh tanaman sorgum sehingga menyebabkan seluruh malai pada tanaman sorgum patah dan tidak tersisa satu batang malai pun yang utuh di lahan percobaan sehingga kami mengalami gagal panen padahal tanaman sorgum seluruh malainya sudah terisi bulir-bulir secara penuh dan subur. Ulat jenis ini disebut Rhitydodera simulans yang biasanya menyerang ranting maupun cabang hingga batang utama dapat mengalami kematian yang ditandai dengaan gejala awal pada batang malai berwarna ungu kecoklatan dan menyebabkan batang malai patah yang paling sering mengalami serangan.

Pengendalian ulat hama penggerek batang ini dapat dilakukan dengan menerapkan beberapa teknik pengendalian, seperti: lakukan monitoring fenologi pertumbuhan tanaman dengan tujuan mengetahui fase kritis mulai adanya serangan yaitu saat fase tunas, aplikasi insektisida berbahan aktif imidakloprid pada saat fase kritis (tunas) dengan interval 1 minggu, bila ada serangan dengan ditandai oleh adanya lubang pada ranting/cabang dapat dilakukan pengendalian tahap pertama menggunakan teknik injeksi insektisida kontak, Bila serangan masih berlanjut ditandai dengan adanya kotoran yang keluar dari lubang maka dilakukan pemangkasan sampai sekitar 10 cm di bawah bekas gerekan terbaru tanpa menunggu bagian tanaman tersebut kering.



V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang didapat dari praktikum yang telah dilakukan yaitu
1.    Sorgum varietas mandau tidak sepenuhnya tahan terhadap hama  dan penyakit.
2.    Penyebab kegagalan panen sorgum pada kelompok 2 yaitu akibat terserangnya batang sorgum oleh ulat penggerek batang dan malai
3.    Ulat penggerek batang dan malai merupakan suatu ancaman apabila tidak segera mungkin dikendalikan dapat menyebabkan kegagalan panen yang besar dan merugikan
4.    Gejala akibat serangan ulat penggerek batang dan malai yaitu batang bewarna ungu kemerahan, terdapat luka gerekan pada batang, biji sorgum membusuk, dan rebah.
5.    Bobot tanaman yang didapat yaitu memiliki rata-rata 234 gr.


5.2 Saran

Adapun saran dari kelompok kami yaitu dalam melakukan sebuah praktikum tentang adaptasi suatu tanaman pangan misalnya sorgum, disarankan untuk memperhatikan pergeseran atau perubahan sekecil apapun dari perkembangan tanaman. Hal ini sangat penting agar hasil praktikum tidak mengalami kegagalan, seperti pada kelompok kami. Faktor yang dapat menyebabkan kegagalan misalnya hama harus diperhatikan secara tanggap agar tidak mencapai batas luka ekonomi yang dapat menurunkan produksi secara kualitas maupun kuantitas. Selanjutnya, bagi mahasiswa yang ingin melakukan praktikum ini kembali, disarankan untuk memperhatikan faktor yang dapat menyebabkan kegagalan panen, seperti hama penggerek batang dan malai yang gejala awalnya tidak kelihatan, sehingga kedepannya praktikum ini dapat menghasilkan benih yang baik secar kualitas mapun kuantitas.



DAFTAR PUSTAKA


Anonimous. 2012.Klasifikasi Tanaman Sorgum. http://andiariewijakusuma.blogspot.com/2011/03/laporan-budidaya-tanaman-semusim-sorgum.html. Diakses pada tanggal 26 Juni 2012. Pukul 23.00 WIB. Bandar Lampung

Anas. 2011.Sorgum.http://xa.yi1.mg.com/kq/groups/25896088/1112009878/ name/sorgum1.doc. Diakses tanggal 26 Juni 2012. Pukul 23.20 WIB. Bandar Lampung

Kusuma, J., F.N. Azis, A. Hanif, Erifah I., M. Iqbal, A. Reza dan Sarno. 2008. Tugas Terstruktur Mata Kuliah Pemulihan Tanaman Terapan; Sorgum. Departemen Pendidikan Nasional, Universitas Jenderal Soedirman, Fakultas Pertanian, Purwokerto.

Laimeheriwa, Jantje. 1997. Teknologi Budidaya Sorgum. Departemen Pertanian. Balai Informasi Pertanian Propinsi Irian Jaya.

Rismunandar .2006. Teknologi Penanganan Pasca Panen. PT Rineka Cipta. Jakarta.

Syam, M., Hermanto dan A. Musaddad. 1996. Kinerja Penelitian Tanaman Pangan, Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III, Buku 4. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor.

Yanuwar, W. 2002. Aktivitas Antioksidan dan Imunomodulator Serealia Non-Beras. Institut Pertanian Bogor.




















LAMPIRAN











Gejala yang terjadi pada sorgum varietas Mandau yang disebabkan ulat penggerek batang dan malai



jangan lupa kasih komentar dan join site ini yaaa:D GOMAWO^^








2 komentar:

cahyo jm mengatakan...

wah makasih kawan sangat membantu sekali salam kenal

annyounghasimnikka mengatakan...

yaa salam kenal terima kash komentarnya

Poskan Komentar

Please leave your comment and join this site :D 감사합니다. no spam please :DD

Template by:

Free Blog Templates